Dolar AS menguat

id kurs dolar,indeks dolar,uang aman,harga energi,inflasi tinggi,tapering Fed,uang kripto

Dolar AS menguat

Dokumentasi. Karyawan menghitung uang di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Jumat (6/11/2020). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.

New York (ANTARA) - Dolar menguat pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena lonjakan harga energi mendorong investor mencari tempat yang aman, dengan greenback mencapai level tertinggi hampir tiga tahun terhadap yen di tengah ekspektasi Federal Reserve AS akan mengumumkan pengurangan pembelian obligasinya bulan depan.

Harga minyak melonjak pada Senin (11/10/2021) ke puncak multi-tahun, didorong oleh rebound permintaan global. Kekhawatiran bahwa kenaikan harga-harga dapat memperburuk akumulasi rantai pasokan global menyebabkan Wall Street menyerahkan kenaikan awalnya.

"Penghindaran risiko seperti menetap," kata Edward Moya, analis pasar senior di broker valas Oanda. "Kami tidak akan mendapatkan jawaban atas krisis energi global atau tekanan inflasi dalam waktu dekat dan risiko tersebut kemungkinan akan membuat banyak investor tetap fokus pada keamanan dalam jangka pendek," katanya.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama saingannya, naik 0,174 persen pada 94,328, tidak jauh dari tertinggi satu tahun di 94,504 yang disentuh awal bulan ini.

Pasar pendapatan tetap (fixed income) AS ditutup pada Senin (11/10/2021) untuk hari libur federal tetapi imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 10-tahun yang jadi acuan mencapai tertinggi empat bulan 1,617 persen pada Jumat (8/10/2021), bahkan setelah data menunjukkan ekonomi AS menciptakan lapangan kerja paling sedikit dalam sembilan bulan pada September, meleset dari perkiraan.

Namun, data untuk Agustus direvisi naik tajam dan tingkat pengangguran turun ke level terendah 18-bulan, menunjukkan kekhawatiran kekurangan tenaga kerja tetap dibenarkan, menjaga kekhawatiran inflasi tetap hidup dan memberikan pembenaran Fed untuk mengurangi stimulus darurat yang dimulai tahun lalu.

Yen, yang dikenal sangat sensitif terhadap perbedaan suku bunga, mencapai 113 yen per dolar untuk pertama kalinya sejak Desember 2018.

Dengan suku bunga obligasi pemerintah Jepang yang tertambat baik dan bank sentral Jepang (BoJ) mempertahankan kebijakannya, ekspektasi pengumuman tapering Fed segera akan menekan imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi, mendukung kisaran dolar-yen lebih tinggi, kata Roberto Cobo Garcia, kepala strategi valas di BBVA .

Risiko utama untuk pasangan dolar-yen minggu ini berasal dari data AS, dengan indeks harga konsumen dan penjualan ritel akan dirilis pekan ini.

"Investor perlu sedikit berhati-hati, karena jika inflasi dan angka pengeluaran konsumen minggu ini turun, akan sangat sulit bagi dolar untuk mempertahankan kenaikannya," kata Kathy Lien, direktur pelaksana di BK Asset Management.

Dolar Australia mencapai level terkuatnya sejak 14 September, dan baru-baru ini naik 0,57 persen terhadap dolar pada 0,73505 dolar AS, dibantu oleh harga komoditas yang kuat dan pembukaan kembali sebagian Sydney, kota terbesar di Australia.

Kekhawatiran tentang inflasi tidak terbatas di Amerika Serikat, dengan gangguan pasokan dan kenaikan harga komoditas yang mempengaruhi banyak negara.

Pound Inggris telah meningkat di awal perdagangan London di tengah meningkatnya ekspektasi bank sentral Inggris (BoE) dapat menaikkan suku bunga untuk mengekang inflasi, tetapi memudar kemudian di akhir sesi karena kekhawatiran harga energi, terakhir turun 0,08 persen pada 1,3607 dolar.

Pasar Kanada ditutup untuk liburan, tetapi loonie menyentuh level tertinggi dua bulan di 1,24465 dolar Kanada per dolar AS berkat data penggajian Kanada yang secara mengejutkan kuat dirilis pada Jumat (8/10/2021) dan harga minyak yang tinggi.

Di pasar kripto, Bitcoin mencapai level tertinggi lima bulan, naik 5,06 persen pada 57.486 dolar AS, sementara Ether naik 4,3 persen pada 3.569 dolar AS.


 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021