Harga minyak anjlok

id harga minyak,minyak mentah,minyak wti,minyak brent,minyak berjangka,dolar

Harga minyak anjlok

Dokumentasi - Ladang minyak Equinor di Johan Sverdrup, Laut Utara Norwegia. ANTARA/REUTERS/Nerijus Adomaitis/aa.

New York (ANTARA) - Harga minyak jatuh sekitar tiga persen menjadi di bawah 80 dolar AS per barel pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena melonjaknya kasus COVID-19 di Eropa mengancam akan memperlambat pemulihan ekonomi, sementara investor juga mempertimbangkan potensi pelepasan cadangan minyak oleh ekonomi-ekonomi utama untuk mendinginkan harga.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari anjlok 2,35 dolar AS atau 2,9 persen, menjadi menetap di 78,89 dolar AS per barel. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember merosot 2,91 dolar AS atau 3,6 persen, menjadi ditutup di 76,10 dolar AS per barel pada hari terakhir kontrak bulan depan.

Sementara itu Harga minyak WTI untuk pengiriman Januari kehilangan sekitar 2,65 persen atau 3,4 persen, menjadi berakhir di 75,78 dolar AS per barel.

Untuk minggu ini patokan harga minyak mentah AS turun 5,8 persen, sementara Brent turun 4,0 persen, berdasarkan kontrak bulan depan. Kedua kontrak acuan melemah untuk minggu keempat berturut-turut, untuk pertama kalinya sejak Maret 2020.

"Ketakutan akan hal yang tidak diketahui membebani sentimen pasar," kata Analis Senior Price Futures, Phil Flynn, di Chicago. "Kekhawatirannya adalah bahwa kita akan mendapatkan semacam pelepasan (cadangan minyak) terkoordinasi selama Liburan Thanksgiving minggu depan, ketika volume biasanya rendah dan pergerakan dramatis telah terjadi."

Austria menjadi negara pertama di Eropa barat yang memberlakukan kembali penguncian penuh Virus Corona musim gugur ini, untuk mengatasi gelombang baru infeksi COVID-19 di seluruh wilayah. Jerman, ekonomi terbesar Eropa, memperingatkan mungkin juga harus pindah ke penguncian penuh.



Harga minyak Brent telah melonjak hampir 60 persen tahun ini karena ekonomi bangkit kembali dari pandemi dan karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, hanya meningkatkan produksi secara bertahap.

"Pasar (minyak) secara fundamental masih dalam posisi yang baik tetapi penguncian sekarang menjadi risiko yang jelas ... jika negara lain mengikuti jejak Austria," Analis Pasar OANDA, Craig Erlam, mengatakan dalam sebuah catatan.

Pemerintah-pemerintah dari beberapa ekonomi terbesar dunia sedang mempertimbangkan untuk melepaskan minyak dari cadangan minyak strategis (SPR) menyusul permintaan dari Amerika Serikat, yang pertama kali dilaporkan oleh Reuters, untuk langkah terkoordinasi mendinginkan harga.

Gedung Putih pada Jumat (19/11/2021) menekan kelompok produsen OPEC lagi untuk mempertahankan pasokan global yang memadai, beberapa hari setelah diskusi AS dengan beberapa ekonomi terbesar dunia mengenai potensi pelepasan minyak dari cadangan strategis untuk memadamkan harga energi yang tinggi.

Spekulasi tentang rilis SPR AS telah mendorong harga minyak turun sekitar 4 dolar AS per barel dalam beberapa pekan terakhir dan pasokan tambahan hingga 100 juta barel sudah diperkirakan, kata analis minyak Goldman Sachs dalam sebuah catatan.

Akibatnya, dikatakan setiap pelepasan (cadangan minyak) "hanya akan memberikan perbaikan jangka pendek untuk defisit struktural."

OPEC+ tetap berpegang pada kebijakan kenaikan produksi minyak secara bertahap bahkan ketika harga melonjak, dengan mengatakan pihaknya memperkirakan pasokan akan melebihi permintaan pada bulan-bulan pertama tahun 2022.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021