Logo Header Antaranews Jogja

Harga minyak "rebound"

Selasa, 21 Maret 2023 06:27 WIB
Image Print
Ilustrasi - Foto udara menunjukkan zona kerja di ladang minyak Changqing, ladang minyak dan gas terbesar China Provinsi Gansu, China barat laut. ANTARA/XINHUA/Ma Xiping/aa.

New York (ANTARA) - Harga minyak rebound pada Selasa pagi WIB memulihkan beberapa kerugian besar yang mereka derita pada pekan sebelumnya.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April terangkat 90 sen atau 1,35 persen, menjadi menetap di 67,64 dolar AS per barel menjelang berakhirnya kontrak di New York Mercantile Exchange. Kontrak berjangka Mei yang lebih aktif diperdagangkan naik 89 sen atau 1,3 persen, menjadi 67,82 dolar AS per barel.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei bertambah 82 sen atau 1,12 persen, menjadi ditutup pada 73,79 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Harga minyak rebound karena Wall Street membukukan keuntungan. Semula, Brent dan WTI turun sekitar tiga dolar AS per barel ke level terendah sejak Desember 2021, dengan WTI sempat tenggelam di bawah 65 dolar AS per barel. pada satu titik. Pekan lalu, kedua harga acuan turun lebih dari 10 persen karena krisis perbankan semakin dalam.

Penurunan awal minyak terjadi meskipun ada kesepakatan bersejarah dimana UBS, bank terbesar Swiss, setuju untuk membeli Credit Suisse dalam upaya menyelamatkan bank terbesar kedua di negara itu.

Setelah kesepakatan diumumkan, Federal Reserve AS, Bank Sentral Eropa, dan bank-bank sentral utama lainnya berjanji untuk meningkatkan likuiditas pasar dan mendukung bank lain.

"Ada banyak pergerakan berbasis rasa takut (dalam harga minyak)," kata analis Price Futures Group Phil Flynn. "Kami tidak bergerak sama sekali pada fundamental penawaran dan permintaan, kami hanya bergerak pada masalah perbankan."

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Minyak "rebound" setelah aksi jual pekan lalu karena kekhawatiran bank



Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026