Logo Header Antaranews Jogja

Gaji tersendat, ancaman lama yang hantui Liga Indonesia

Minggu, 19 April 2026 07:05 WIB
Image Print
Pesepak bola PSBS Biak Ruyery Alfonso Blanco (kanan) berusaha melewati pesepak bola Bali United Kadek Arel (tengah) dan Diego Campos (kiri) pada pertandingan Super League 2025/2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Senin (6/4/2026). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/YU

Jakarta (ANTARA) - Di balik ingar-bingar BRI Super League 2025/2026, ada masalah klasik yang kembali muncul. Salah satu klub peserta kompetisi sepak bola strata tertinggi Indonesia tersebut disebut-sebut punya masalah berupa penundaan gaji pemain.

Pada Rabu (15/4), tersiar surat anonim di grup Whatsapp pewarta sepak bola yang mengeluhkan masalah penundaan gaji dan berbagai fasilitas pendukung lainnya di PSBS Biak. Surat itu ditujukan kepada  PSBS Biak, operator liga yakni ILeague, dan PSSI.

Salah satu keluhan utama di surat itu adalah belum diterimanya gaji selama dua setengah bulan sampai tiga bulan. Hal yang lebih memilukan, dalam surat itu disebutkan beberapa kebutuhan dasar seperti air minum setelah sesi latihan, makanan bagi pemain-pemain lokal, kendaraan, dan tempat tinggal juga tidak dapat dipenuhi.

Satu pemain PSBS Biak, yakni Pablo Andrade, kemudian mengunggah surat tersebut melalui story di Instagram pribadinya. Namun karena story hanya bertahan selama 24 jam, maka saat ini unggahan tersebut telah hilang.

Kabar ini kemudian sampai ke Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI). Pada Kamis (16/4), APPI mengonfirmasi bahwa para pemain PSBS Biak sudah tiga bulan tidak mendapat gaji dan sampai saat surat itu mereka terima, belum jelas solusi yang bisa didapatkan oleh para pemain.

APPI hanya mengatakan bahwa saat ini proses penanganan atas laporan tersebut terus berlanjut sesuai dengan ketentuan hukum, serta berharap agar kewajiban klub terhadap para pemain dapat segera diselesaikan.




Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026