
Penyerapan beras petani tanpa impor dorong NTP naik

Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan penyerapan beras dalam negeri tanpa impor mendorong kenaikan nilai tukar petani (NTP), seiring peningkatan produksi serta upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional.
"Hari ini alhamdulillah, hari di mana kebahagiaan petani itu tercapai. Kenapa? Karena produksinya meningkat, tentu pendapatan petani meningkat," kata Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangan di Jakarta, Selasa.
Bapanas mencatat realisasi pengadaan setara beras dari produksi dalam negeri hingga awal Mei 2026 melampaui realisasi Januari-Mei 2025. Per 3 Mei, Bulog telah menyerap setara beras 2,53 juta ton atau 63,3 persen dari target 4 juta ton di tahun ini.
"Capaian ini telah melampaui realisasi penyerapan beras selama Januari-Mei tahun lalu yang berkisar di angka 2,47 juta ton," ujar Amran.
Amran juga menepis tudingan masih ada impor beras, sebab Indonesia sudah meraih swasembada komoditas tersebut sejak akhir 2025.
Ia menjelaskan Indonesia sudah tidak melakukan impor beras umum yang biasa dikonsumsi masyarakat. Namun memang ada impor beras khusus yang benar-benar tidak bisa ditanam di Indonesia dan jumlahnya sangat kecil.
"Nah ada lagi mengatakan ini 2024 (masih) impor, kok tiba-tiba terhenti? Ya itulah jagoannya kita. Kemudian (dibilang masih) ada impor, iya ini yang rancu. Ada impor 0,000 sekian persen, itu (beras khusus) basmati yang tidak ditanam di Indonesia. Tidak bisa tumbuh (di Indonesia)," beber Amran.
"Yang kita maksud adalah swasembada beras, itu yang medium. (Beras) yang biasa dikonsumsi tiap hari orang Indonesia," kata Amran lagi.
Stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog mencatatkan angka yang eksponensial meskipun tidak ada impor beras besar-besaran sejak tahun 2025.
Pasokan beras dari serapan produksi dalam negeri totalnya 3,4 juta ton selama 2025 telah mampu memperkuat stok CBP yang nantinya akan disalurkan ke masyarakat Indonesia melalui berbagai program.
Misalnya melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras yang menghadirkan beras berkualitas baik dengan harga di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk masyarakat. Realisasi penjualannya selama April mencapai 107,9 ribu ton. Realisasi ini sudah melebihi realisasi SPHP beras di Maret yang 66,8 ribu ton.
Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan perkembangan positif proyeksi produksi beras nasional sampai Juni 2026 berpotensi mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Akselerasi itu diyakini berimplikasi pada peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) Subsektor Tanaman Pangan di April 2026.
"Subsektor yang mengalami kenaikan NTP pada bulan April tahun 2026, yaitu subsektor tanaman pangan dan tanaman perkebunan rakyat. Masing-masing mengalami peningkatan NTP sebesar 0,43 persen dan juga 1,62 persen," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta, Senin (4/5).
Adapun untuk indeks NTP Tanaman Pangan dilaporkan BPS meningkat menjadi 112,29 di April. Sebelumnya di Maret, NTP Tanaman Pangan berada di level 111,81. Untuk diketahui, NTP Tanaman Pangan berhasil dijaga pemerintah selalu lebih dari indeks 100 sejak tahun 2022.
Dalam data BPS terbaru, kenaikan NTP Tanaman Pangan sebagian besar disumbang oleh kelompok penyusun yang merupakan kelompok petani tanaman padi. Indeks harga diterima petani padi meningkat dari semula 144,58 di Maret, lalu berkembang menjadi 145,37 di April.
Selain itu, BPS turut pula mengumumkan produksi beras nasional Januari sampai Juni tahun 2026 yang diproyeksikan mengalami peningkatan terhadap produksi beras periode yang sama tahun lalu. Ini tentunya dapat membawa spirit positif demi akselerasi produksi beras nasional.
"Produksi beras sepanjang Januari sampai dengan Juni tahun 2026 diperkirakan mencapai 19,31 juta ton atau mengalami kenaikan sebesar 0,05 juta ton atau naik 0,26 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025," terang Ateng.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Bapanas: Penyerapan beras petani tanpa impor dorong NTP naik
Pewarta : Muhammad Harianto
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
