Logo Header Antaranews Jogja

Kemenko PMK dan ISI Yogyakarta memperingati 20 tahun Gempa Jogja

Jumat, 8 Mei 2026 19:42 WIB
Image Print
Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo (kelima kiri), Rektor ISI Yogyakarta Irwandi (keenam kiri), Guru Besar Sosiologi Kebencanaan Universitas Pertahanan Syamsul Maarif (keenam kanan), seniman Endang Lestari (ketiga kanan), dosen Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta Mikke Susanto (belakang kiri), dan jajaran pimpinan ISI Yogyakarta berfoto bersama sebelum diskusi panel peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta di Kampus ISI Yogyakarta, Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (8/5/2026). Diskusi yang digelar Kemenko PMK bersama ISI Yogyakarta itu membahas peran budaya dalam membangun ketangguhan bencana pada masyarakat. ANTARA/Rahid Putra Laksana

Yogyakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menggelar diskusi budaya bertema ketangguhan bencana untuk memperingati 20 tahun Gempa Yogyakarta di Kampus ISI Yogyakarta, Jumat.

Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo mengatakan peringatan dua dekade Gempa Yogyakarta menjadi momentum untuk memperkuat memori kolektif masyarakat terhadap kebencanaan.

"Setelah 20 tahun, kita harus memperkuat terkait dengan memori kolektif masyarakat terkait dengan bencana," kata Andre.

Ia mengenang kembali peristiwa Gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 yang menelan ribuan korban jiwa dalam waktu singkat.

"20 tahun yang lalu, sekitar 5.700 jiwa meninggal dalam waktu hanya 57 detik di gempa Jogja 2006. Itu adalah salah satu bencana yang tertinggi di abad ke-21 di Indonesia," katanya.

Andre juga menekankan pentingnya budaya dan kearifan lokal dalam membangun ketangguhan masyarakat terhadap bencana.

Menurut dia, nilai-nilai kebencanaan sejatinya telah menjadi bagian dari budaya masyarakat selama ratusan tahun, salah satunya tercermin melalui Sumbu Filosofis Yogyakarta yang menjadi simbol tata ruang berbasis mitigasi bencana dan ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2023.

"Sebetulnya masalah kebencanaan itu sudah ratusan tahun menjadi bagian dari budaya dan kearifan lokal," katanya.

Ia mengatakan Indonesia sebagai negara dengan potensi bencana tinggi membutuhkan penguatan budaya sadar bencana yang melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi, seniman, dan masyarakat.

"Penanganan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan masyarakat melalui penguatan literasi budaya dan ketangguhan sosial. Seluruh pihak di masyarakat, dari akademisi, peneliti, perekayasa, praktisi yang sangat bagus untuk dilakukan konsolidasi dan bagaimana upaya untuk membangun kolaborasi intensif antara pihak,” katanya.

Rektor ISI Yogyakarta Irwandi mengatakan pendekatan seni dan budaya dinilai penting untuk membangun kesadaran kebencanaan, khususnya bagi generasi muda di wilayah rawan bencana seperti Yogyakarta.

"Seni dapat memberikan daya dorongnya untuk bisa ikut menumbuhkembangkan kesadaran akan kebencanaan ini kepada masyarakat," katanya.

Dalam diskusi tersebut, dosen Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta Mikke Susanto menyoroti peran seni sebagai medium pemulihan emosional sekaligus pengingat kolektif pascabencana.

Menurut Mikke, karya seni tidak hanya menjadi bentuk ekspresi, tetapi juga bagian dari advokasi publik dan edukasi kebencanaan kepada masyarakat.

Diskusi panel itu turut menghadirkan Guru Besar Sosiologi Kebencanaan Universitas Pertahanan Syamsul Maarif serta seniman Endang Lestari yang dikenal melalui seri karya "Geology of Memories".

Selain diskusi, rangkaian kegiatan peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta juga diisi dengan penanaman pohon sebagai simbol ketangguhan ekosistem alam di suatu kawasan dan menjadi simbol ketangguhan bencana.



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026