Logo Header Antaranews Jogja

Memahami batas "new media"

Minggu, 10 Mei 2026 19:43 WIB
Image Print
ilustrasi - Wamenkomdigi Nezar Patria saat menerima audiensi Tim Riset Digital Culture & New Media Studies Lab Telkom University di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Selasa (03/02/2026). (ANTARA/HO-Kementerian Komunikasi dan Digital)

Saling melengkapi

Media konvensional dan new media bukanlah pesaing dalam satu arena yang sama. Mereka adalah dua instrumen yang berbeda fungsinya, dan keduanya paling berguna ketika digunakan sesuai kapasitasnya masing-masing.

Media konvensional adalah jangkar kredibilitas. Tidak instan, tapi akuntabel. Dalam dan terverifikasi. New media adalah penggerak distribusi yang cepat, luas, dan memiliki kedekatan emosional dengan audiens yang tidak mudah dibangun melalui cara-cara konvensional.

Perkaranya bukan mana yang lebih bagus atau yang satu lebih baik dari yang lain. Persoalan akan muncul ketika keduanya diperlakukan seolah-olah setara dalam hal yang tidak setara, terutama soal akuntabilitas dan keandalan informasi.

Lantas, apakah new media bisa menjadi alat untuk saluran komunikasi publik dengan jangkauan lebih luas? Tapi ketika kita memperluas jangkauan dengan cara tertentu, apakah kita juga mengentalkan kepercayaan atau justru mengencerkannya?

Karena, angka-angka pada views dan klik lebih tepat menjadi alat ukur untuk upaya monetisasi. Sementara kepercayaan pada suatu media adalah yang dituntut untuk mencari kebenaran.

 





 

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Memahami batas "new media"



COPYRIGHT © ANTARA 2026