
Menghela tradisi ke arus ekonomi kreatif

Jakarta (ANTARA) - Ada paradoks yang terus berulang dalam cara kita memperlakukan produk tradisional.
Kita kerap menuntut para perajin menjaga kemurnian warisan leluhur tanpa kompromi, sementara pola konsumsi masyarakat di sekelilingnya telah berubah total.
Batik, tenun, kriya anyaman, dan gerabah diperlakukan bak relik suci yang tabu disentuh inovasi bentuk.
Festival digelar megah, pameran kriya dipadati seremonial, dan piagam penghargaan dibagikan kepada para maestro desa.
Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang hampir selalu luput dari perhatian para pembuat kebijakan: Siapa yang akan membeli karya-karya tersebut ketika wujud fisiknya tidak lagi sesuai dengan kebutuhan hidup modern?
Persoalan ini kian mendesak karena produk tradisional bukanlah artefak mati pemanis etalase museum.
Baca juga: Kemenekraf: Fotografi ponsel bisa jadi modal pacu perekonomian daerah
Di balik selembar kain tenun atau sebutir mangkuk gerabah, terbentang urat nadi ekonomi riil yang melibatkan petani serat, pemintal benang, perajin pewarna alami, buruh angkut, hingga pedagang perantara di pelosok desa.
Ketika produk tradisional kehilangan daya serap pasarnya, yang lenyap bukan sekadar khazanah motif lokal. Kehilangan yang jauh lebih merusak adalah terputusnya nafkah ribuan keluarga, memudarnya lapangan kerja perdesaan, serta terhentinya regenerasi profesi perajin.
Tradisi yang kehilangan fungsi ekonominya niscaya bermuara pada kepunahan alamiah.
Maka, sudah saatnya kita mengakhiri pandangan usang yang memposisikan modernisasi sebagai musuh bebuyutan tradisi.
Memodernisasi fungsi dan rupa produk justru merupakan langkah paling rasional untuk menjaga nyawa kebudayaan itu sendiri. Tradisi tidak semestinya hidup dari romantisme masa lalu atau rasa iba masyarakat.
Sebaliknya, tradisi harus mampu berdiri tegak sebagai entitas industri kreatif yang kompetitif, bernilai tambah tinggi, dan dicari karena manfaat kegunaannya.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
