Material vulkanik Merapi masih tertinggal 90 juta meter kubik
Rabu, 22 Februari 2012 6:46 WIB
Sejumlah warga melakukan penambangan batu Merapi di Kawasan Sungai Gendol, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman,DI Yogyakarta. (FOTO ANTARA/Wahyu Putro A)
Yogyakarta (ANTARA News) - Tumpukan material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi pada akhir 2010 masih belum banyak terbawa hujan menjadi lahar dingin dan diperkirakan masih ada sekitar 90 juta meter kubik material vulkanik di lereng gunung tersebut.
"Material vulkanik sisa erupsi 2010 diperkirakan masih ada sekitar 90 juta meter kubik di lereng Merapi," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo di Yogyakarta, Rabu.
Menurut dia, musim hujan 2011 dan 2012 belum banyak membawa material endapan vulkanik karena intensitas hujan di puncak gunung tidak terlalu deras.
Intensitas hujan yang lebih deras, lanjut dia, justru lebih banyak terjadi di bagian bawah gunung sehingga tidak terlalu banyak membawa material vulkanik sisa erupsi Merapi.
"Dari pantauan yang kami lakukan, belum pernah ada aliran lahar dingin yang besar dan berbahaya meskipun potensi itu tetap ada," katanya.
Berdasarkan sebaran material erupsi Merapi, ancaman terjadinya banjir lahar dingin di sungai yang berada di sisi barat gunung akan lebih besar dibanding sisi timur karena material hasil erupsi di sisi barat bersifat menyebar sehingga mudah terbawa air.
Sementara itu, kondisi material hasil erupsi di sisi timur Gunung Merapi tidak terlalu menyebar sehingga tidak mudah hanyut atau tererosi aliran air hujan sehingga ancaman terjadinya banjir lahar dingin pun lebih kecil.
Pada akhir 2011, endapan material erupsi Merapi di Sungai Gendol yang berada di sisi timur diperkirakan masih mencapai 24 juta meter kubik.
Sedangkan di dua sungai di sisi barat, endapan material lebih kecil, yaitu sekitar 8,2 juta meter kubik di Sungai Putih dan di Sungai Boyong diperkirakan sekitar 2,4 juta meter kubik.
Ia menegaskan, status siaga darurat ancaman banjir lahar dingin masih tetap berlaku. Kondisi hujan lebat dengan intensitas lebih dari 20 milimeter (mm) per jam yang terjadi lebih dari dua jam berturut-turut berpotensi menimbulkan aliran lahar yang berbahaya.
Kondisi material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi pada 2010 dan kondisinya setelah lebih dari satu tahun, adalah sudah terjadi pengurangan kandungan abu vulkanik.
Abu vulkanik yang terkandung dalam material erupsi tersebut, menurut Subandriyo, bisa membantu pemadatan material erupsi, namun dalam kondisi tertentu juga bisa mempercepat proses terjadinya lahar dingin.
"Yang mempengaruhi adalah aspek kimia dan fisik dari material erupsi itu sendiri. Kami pun tidak bisa menghitung waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya pemadatan hingag material itu mencapai titik kestabilan," katanya. (E013)
"Material vulkanik sisa erupsi 2010 diperkirakan masih ada sekitar 90 juta meter kubik di lereng Merapi," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo di Yogyakarta, Rabu.
Menurut dia, musim hujan 2011 dan 2012 belum banyak membawa material endapan vulkanik karena intensitas hujan di puncak gunung tidak terlalu deras.
Intensitas hujan yang lebih deras, lanjut dia, justru lebih banyak terjadi di bagian bawah gunung sehingga tidak terlalu banyak membawa material vulkanik sisa erupsi Merapi.
"Dari pantauan yang kami lakukan, belum pernah ada aliran lahar dingin yang besar dan berbahaya meskipun potensi itu tetap ada," katanya.
Berdasarkan sebaran material erupsi Merapi, ancaman terjadinya banjir lahar dingin di sungai yang berada di sisi barat gunung akan lebih besar dibanding sisi timur karena material hasil erupsi di sisi barat bersifat menyebar sehingga mudah terbawa air.
Sementara itu, kondisi material hasil erupsi di sisi timur Gunung Merapi tidak terlalu menyebar sehingga tidak mudah hanyut atau tererosi aliran air hujan sehingga ancaman terjadinya banjir lahar dingin pun lebih kecil.
Pada akhir 2011, endapan material erupsi Merapi di Sungai Gendol yang berada di sisi timur diperkirakan masih mencapai 24 juta meter kubik.
Sedangkan di dua sungai di sisi barat, endapan material lebih kecil, yaitu sekitar 8,2 juta meter kubik di Sungai Putih dan di Sungai Boyong diperkirakan sekitar 2,4 juta meter kubik.
Ia menegaskan, status siaga darurat ancaman banjir lahar dingin masih tetap berlaku. Kondisi hujan lebat dengan intensitas lebih dari 20 milimeter (mm) per jam yang terjadi lebih dari dua jam berturut-turut berpotensi menimbulkan aliran lahar yang berbahaya.
Kondisi material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi pada 2010 dan kondisinya setelah lebih dari satu tahun, adalah sudah terjadi pengurangan kandungan abu vulkanik.
Abu vulkanik yang terkandung dalam material erupsi tersebut, menurut Subandriyo, bisa membantu pemadatan material erupsi, namun dalam kondisi tertentu juga bisa mempercepat proses terjadinya lahar dingin.
"Yang mempengaruhi adalah aspek kimia dan fisik dari material erupsi itu sendiri. Kami pun tidak bisa menghitung waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya pemadatan hingag material itu mencapai titik kestabilan," katanya. (E013)
Pewarta :
Editor : Handry Musa
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemenperin memperkuat standardisasi material bangunan dukung gentingisasi
25 February 2026 17:35 WIB
Material progran padat karya di Bantul dilakukan pengecekan sebelum pekerjaan fisik
13 February 2025 17:34 WIB, 2025
Pemkab Bantul targetkan distribusi material padat karya selesai pada Februari
11 February 2025 20:42 WIB, 2025
BPPTKG mengingatkan potensi lahar hujan dari timbunan material Merapi
10 December 2024 3:06 WIB, 2024
Batuan material sisa banjir lahar dingin Gunung Marapi, Sumbar, diledakkan
26 May 2024 0:51 WIB, 2024
Sediakan material listrik berkualitas, SonusID MoU dengan PLN Icon Plus hadirkan platform SonusHub
03 March 2024 16:52 WIB, 2024