Jepara (ANTARA Jogja) - Peta wisata dan belanja mebel berisi informasi tentang tempat atau kluster, dan nama-nama jalan menuju sentra-sentra kerajinan mebel di Jepara, Jawa Tengah, diluncurkan.

"Dikemas dalam bentuk buklet, panduan dalam buku ini memberikan akses informasi langsung bagaimana wisatawan dapat memesan mebel dengan motif ukiran khas Jepara ke para perajin kecil dengan harga miring dan kualitas setara galeri di toko besar," kata Ketua Penelitian Rantai Nilai Mebel (Furniture Value Chain/FVC) Pusat Penelitian Kehutanan Antarbangsa (CIFOR) Dr Herry Purnomo, di Jepara, Kamis.

Ia menjelaskan peta wisata dan belanja mebel edisi Bahasa Inggris itu, diluncurkan bersamaan dengan peluncuran buku bertajuk "Pelangi di Tanah Kartini".

Jepara dikenal sebagai tempat kelahiran salah satu tokoh gerakan perempuan nasional Raden Ajeng Kartini.

Peta wisata tersebut terwujud atas kerja sama sejumlah pihak, yakni Pusat Penelitian Pertanian Internasional Australia (Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), Forum Rembug Klaster (FRK) Jepara, Pemerintah Kabupaten Jepara, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (Balitbanghut) Kementerian Kehutanan, serta Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, dan CIFOR
   
Menurut dia, peta dan buku itu mempunyai sisi menarik untuk dikupas lebih jauh, karena memperkenalkan kepada masyarakat luas yang memerlukan bantuan dari media massa sebagai perpanjangan tangan komunikasi para pelaku lokal mebel Jepara.

         
                        Sekuel buku
  
Budhy Kristanti dari Unit Media CIFOR mengatakan buku "Pelangi di Tanah Kartini" diterbitkan sebagai sekuel dari buku dengan tema serupa berjudul "Menunggang Badai" (2011).

Melalui buku tersebut, kata dia, pembaca diajak untuk mengikuti kisah para pelaku lokal mebel Jepara berkutat, berjuang, dan bertahan dalam industri mebel.

Ia mencontohkan, dalam bagian buku itu Sutrisno, salah satu penulis, dalam kesehariannya adalah pengukir relief.

Dirinya meyakini bahwa seni relief ukir Jepara mempunyai keunggulan unik yang didasari oleh tradisi Jepara.
"Kreativitas adalah hal utama dalam mengukir. Bukan sekadar menghasilkan peluru balistik antarbenua, melainkan kreativitas yang didasari sebuah ide dan gagasan melalui kontemplasi," katanya di buku itu halaman 26.

Kisah kegigihan lain ditulis oleh Intiyah, perempuan pengukir kerja paruh waktu.
"Mencari tempat kerja mengukir tidaklah mudah, harus benar-benar mengerti ukiran," katanya di buku itu halaman 37.

Ibu muda ini belajar mengukir secara ototidak  untuk membantu kehidupan keluarga.

"Mengukir adalah pekerjaan yang menjanjikan bagi perempuan (di Jepara), kebanggaan  tersendiri karena bisa dikerjakan di rumah," katanya di buku ini, halaman 36.

Kisah lainnya disampaikan Utomo yang menulis kegelisahannya akan berkurangnya sumber tenaga pengukir di Jepara.

Kelangkaan sumber tenaga itu adalah penyebaran mebel Jepara ke seluruh Indonesia bahkan keluar negeri. Banyak pengerah tenaga kerja yang resmi maupun tidak yang telah mengirim tenaga kerja mebel dari Jepara sebagai tukang "nyeteli" (perakit barang) dan untuk melatih tenaga ahli.

Bahkan, sekarang juga banyak dicari tenaga "finishing" untuk dikirim ke Sumatera dan Sulawesi (hal 81).

Tidak sekadar menceritakan kisah-kisah kehidupan dari enam penulis buku "Pelangi di Tanah Kartini" itu, publik juga dapat membaca kendala-kendala yang dihadapi oleh pelaku lokal.

Pasokan kayu jati kepada 12 ribu unit bisnis kecil susah didapat karena sudah dibeli terlebih dahulu oleh pengusaha besar, bisa mematikan usaha mereka.

"Hal yang tentunya amat disayangkan karena menyangkut ribuan mata pencaharian penduduk Jepara," katanya.

(A035)


Pewarta :
Editor : Masduki Attamami
Copyright © ANTARA 2024