Gunung Kidul (Antara Jogja) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan membuka lokasi pendaratan penyu sebagai objek wisata minat khusus.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunung Kidul Agus Priyanto, Minggu, mengatakan pihaknya menggandeng konsultan untuk melakukan survei pantai mana yang terdapat lokasi pendaratan penyu.
"Di sepanjang pantai selatan disinyalir sebagai lokasi pendaratan penyu. Kami sudah melakukan survei beberapa waktu lalu," kata Agus.
Ia mengatakan pemetaan ini dilakukan sepanjang pantai, sehingga nantinya penyu bisa berkembang biak tanpa ada gangguan dari manusia.
Lokasi yang disurvei sebanyak 25 pantai yang terindikasi memiliki potensi sedang sebagai tempat pendaratan penyu. Pantai tersebut di antaranya pantai Butuh, Ngulen, Ngedan, Soridam, Karawak, dan Piyuyon.
Sementara itu, pantai yang memiliki potensi tinggi untuk pendaratan penyu ada enam pantai, yakni Pantai Woh Kudu, Kayu Arum, Porok, Ngrumput, Seruni dan Ngitun.
"Ada 25 pantai yang berpotensi sedang untuk lokasi pendaratan penyu, dan ada enam pantai yang berpotensi tinggi," kata dia.
Agus menjelaskan ada lima jenis penyu yang ada di Gunung Kidul yakni penyu hijau, sisik, abu-abu, tempayan, dan pipih. "Ada lima jenis penyu disini, dan semua dilindungi," katanya.
Ia mengatakan perlindungan ini untuk salah satu penunjuk ekosistem laut. Dimana lokasi tersebut jika hidup penyu maka potensi ikannya juga tinggi.
"Konon penyu itu mengunyah rumput laut, lalu memuntahkan tanpa memakannya, dan menjadi makanan ikan. Makanan penyu ubur-ubur yang sering menyengat di pantai," kata Agus.
Oleh karena itu, DKP akan berupaya menggandeng masyarakat dan berkoordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) seperti Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) untuk mengembangkan wisata minat khusus terkait pantai konservasi penyu.
Ke depan apabila memungkinkan akan dibuat taman nasional seperti di Banyuwangi, Jawa Timur. "Nantinya jika dibuat pariwisata akan dibuat wisata minat khusus. Itu pun harus didampingi pemandu karena takut merusak ekosistem yang ada," katanya.
Sementara itu, dihubungi terpisah Kabid Pengembangan Produk Wisata Disbudpar Gunung Kidul Hari Sukmono mengatakan pihaknya belum mendengar adanya rencana tersebut. Namun demikian jika hal itu akan dilaksanakan, maka diperlukan persiapan khuusus pengembangannya.
Adapun pengembangannya diperlukan untuk melindungi penyu dari gangguan, sehingga meskipun dikunjungi tetapi penyu tidak terganggu.
"Nantinya akan dibuka pantai yang selama ini jarang dikunjungi sehingga penyu tidak terganggu," kata Hari.
Diakuinya, mempersiapkan lokasi pendaratan penyu sebagai kawasan wisata khusus memang berbeda dengan lokasi wisata lainnya di Gunung Kidul.
"Pendaratan penyu bisa menjadi atraksi, sehingga harus ada persiapan khusus jangan sampai terganggu," kata dia.
KR-STR
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunung Kidul Agus Priyanto, Minggu, mengatakan pihaknya menggandeng konsultan untuk melakukan survei pantai mana yang terdapat lokasi pendaratan penyu.
"Di sepanjang pantai selatan disinyalir sebagai lokasi pendaratan penyu. Kami sudah melakukan survei beberapa waktu lalu," kata Agus.
Ia mengatakan pemetaan ini dilakukan sepanjang pantai, sehingga nantinya penyu bisa berkembang biak tanpa ada gangguan dari manusia.
Lokasi yang disurvei sebanyak 25 pantai yang terindikasi memiliki potensi sedang sebagai tempat pendaratan penyu. Pantai tersebut di antaranya pantai Butuh, Ngulen, Ngedan, Soridam, Karawak, dan Piyuyon.
Sementara itu, pantai yang memiliki potensi tinggi untuk pendaratan penyu ada enam pantai, yakni Pantai Woh Kudu, Kayu Arum, Porok, Ngrumput, Seruni dan Ngitun.
"Ada 25 pantai yang berpotensi sedang untuk lokasi pendaratan penyu, dan ada enam pantai yang berpotensi tinggi," kata dia.
Agus menjelaskan ada lima jenis penyu yang ada di Gunung Kidul yakni penyu hijau, sisik, abu-abu, tempayan, dan pipih. "Ada lima jenis penyu disini, dan semua dilindungi," katanya.
Ia mengatakan perlindungan ini untuk salah satu penunjuk ekosistem laut. Dimana lokasi tersebut jika hidup penyu maka potensi ikannya juga tinggi.
"Konon penyu itu mengunyah rumput laut, lalu memuntahkan tanpa memakannya, dan menjadi makanan ikan. Makanan penyu ubur-ubur yang sering menyengat di pantai," kata Agus.
Oleh karena itu, DKP akan berupaya menggandeng masyarakat dan berkoordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) seperti Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) untuk mengembangkan wisata minat khusus terkait pantai konservasi penyu.
Ke depan apabila memungkinkan akan dibuat taman nasional seperti di Banyuwangi, Jawa Timur. "Nantinya jika dibuat pariwisata akan dibuat wisata minat khusus. Itu pun harus didampingi pemandu karena takut merusak ekosistem yang ada," katanya.
Sementara itu, dihubungi terpisah Kabid Pengembangan Produk Wisata Disbudpar Gunung Kidul Hari Sukmono mengatakan pihaknya belum mendengar adanya rencana tersebut. Namun demikian jika hal itu akan dilaksanakan, maka diperlukan persiapan khuusus pengembangannya.
Adapun pengembangannya diperlukan untuk melindungi penyu dari gangguan, sehingga meskipun dikunjungi tetapi penyu tidak terganggu.
"Nantinya akan dibuka pantai yang selama ini jarang dikunjungi sehingga penyu tidak terganggu," kata Hari.
Diakuinya, mempersiapkan lokasi pendaratan penyu sebagai kawasan wisata khusus memang berbeda dengan lokasi wisata lainnya di Gunung Kidul.
"Pendaratan penyu bisa menjadi atraksi, sehingga harus ada persiapan khusus jangan sampai terganggu," kata dia.
KR-STR