Kulon Progo (Antaranews Jogja) - Kepala Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Brigjen Polisi Ahmad Dhofiri mengatakan peristiwa penyerangan Gereja Santa Lidwina Bedog, Kabupaten Sleman, pada Minggu (11/2) merupakan peristiwa yang sangat memprihatinkan.
  
"Peristiwa tersebut mengundang keprihatinan bersama. Hal ini membuat orang mengatakan DIY sebagai daerah intoleransi," kata Ahmad dalam pertemuan dengan kiai dan ulama seluruh Kabupaten Kulon Progo, DIY, Selasa malam.

Ia mengakui data intoleransi memang ada. Namun sangat disayangkan ketika satu peristiwa selalu dikatakan sebagai tindakan intoleransi. Dicontohkan, ada orang membagikan kebutuhan pokok, warga menolak dikatakan intoleransi.

"Data di Polda DIY memang ada. Peristiwa Gereja Lidwina juga dibilang DIY intoleransi. Kasihan masyarakat Yogyakarta, padahal pelakunya bukan orang DIY melainkan oarng Banyuwangi, Jawa Timur," katanya.

Menurut dia, DIY sebagai daerah istimewa memiliki sebutan luar biasa, mulai kota perjuangan, kota pariwisata, kota pelajar, kota miniatur Indonesia, dan kota paling toleransi. Untuk itu, jangan terjebak dalam peristiwa-peristiwa yang belakangan ini muncul.

"Kalau ingin Yogyakarta betul-betul toleran, parameternya mudah. Beberapa kegiatan berskala nasional dan internasional diselenggarakan di DIY," katanya.

Ahmad mengatakan DIY patut menjadi contoh wilayah yang sangat toleran. Kalau ada peristiwa seperti belakangan terjadi di DIY menyebabkan DIY disebut intoleransi, ia mengmbau masyarakat tidak terjebak dengan genderang skenario orang lain.

"Kita harus percaya diri bahwa DIY merupakan kota yang benar-benar toleran," katanya. 

Pewarta : Sutarmi
Editor : Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2024