Bekraf mendorong "startup" usung ide bisnis lebih beragam
Jumat, 16 Agustus 2019 22:31 WIB
Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). ANTARA/ Dokumentasi Bekraf
Yogyakarta (ANTARA) - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendorong para usaha rintisan atau startup mampu mengusung ide bisnis lebih beragam sebagai peluang sekaligus solusi menjawab permasalahan masyarakat.
"Bukan hanya seperti marketplace seperti yang saat ini ada, tapi kami berharap nanti banyak solusi dari startup berbasis digital untuk bidang kesehatan dan pendidikan," kata Direktur Fasilitasi Infrastruktur TIK Bekraf Muhammad Neil El Himam di sela acara "Bekraf for Pre Start Up (Bekup) 2019" di Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, DIY, Jumat.
Menurut Himam, masih banyak bidang lain yang dapat digarap para pelaku usaha rintisan.
Ia mencontohkan untuk bidang kesehatan, masih banyak pulau di Indonesia yang minim tenaga kesehatan sehingga dapat menjadi lahan pelaku startup untuk menggagas ide bisnia sekaligus menghadirkan solusi bagi masyarakat.
"Sekarang kan (startup) masih itu-itu lagi, begitu Gojek naik daun, semuanya membuat bisnis yang serupa. Kemudian ada e-commerce seperti Bukalapak lalu semua seperti itu, padahal kita tahu masalah yang kita hadapi masih banyak," kata dia.
Sementara itu, melalui program Bekup 2019, menurut Himam, Bekraf berupaya membuat startup di Yogyakarta lebih matang dan bisa berkelanjutan. Program yang berlangsung 16-10 Oktober itu yang untuk tahap awal diikuti 110 peserta.
"Kami juga akan membekali peserta tentang pengetahuan bisnis, teknologi, serta manajemen operasional dari perusahaan rintisan," kata Himam.
Kepala Sub Direktorat Perancangan TIK Bekraf Menhariq Noor menambahkan program Bekup dimaksudkan untuk meminimalisasi startup yang gagal. Melalui program pendampingan itu mereka diharapkan mampu berkelanjutan kendati nilai bisnisnya tidak besar.
"Kalau tidak kita beri bimbingan seperti ini bisa dipastikan stratup itu hanya bikin lalu ada kemudian mereka hilang," kata dia.
"Bukan hanya seperti marketplace seperti yang saat ini ada, tapi kami berharap nanti banyak solusi dari startup berbasis digital untuk bidang kesehatan dan pendidikan," kata Direktur Fasilitasi Infrastruktur TIK Bekraf Muhammad Neil El Himam di sela acara "Bekraf for Pre Start Up (Bekup) 2019" di Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, DIY, Jumat.
Menurut Himam, masih banyak bidang lain yang dapat digarap para pelaku usaha rintisan.
Ia mencontohkan untuk bidang kesehatan, masih banyak pulau di Indonesia yang minim tenaga kesehatan sehingga dapat menjadi lahan pelaku startup untuk menggagas ide bisnia sekaligus menghadirkan solusi bagi masyarakat.
"Sekarang kan (startup) masih itu-itu lagi, begitu Gojek naik daun, semuanya membuat bisnis yang serupa. Kemudian ada e-commerce seperti Bukalapak lalu semua seperti itu, padahal kita tahu masalah yang kita hadapi masih banyak," kata dia.
Sementara itu, melalui program Bekup 2019, menurut Himam, Bekraf berupaya membuat startup di Yogyakarta lebih matang dan bisa berkelanjutan. Program yang berlangsung 16-10 Oktober itu yang untuk tahap awal diikuti 110 peserta.
"Kami juga akan membekali peserta tentang pengetahuan bisnis, teknologi, serta manajemen operasional dari perusahaan rintisan," kata Himam.
Kepala Sub Direktorat Perancangan TIK Bekraf Menhariq Noor menambahkan program Bekup dimaksudkan untuk meminimalisasi startup yang gagal. Melalui program pendampingan itu mereka diharapkan mampu berkelanjutan kendati nilai bisnisnya tidak besar.
"Kalau tidak kita beri bimbingan seperti ini bisa dipastikan stratup itu hanya bikin lalu ada kemudian mereka hilang," kata dia.
Pewarta : Luqman Hakim
Editor : Herry Soebanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pencapaian di LinkedIn's Top Startup 2024 bukti nyata visi Cetta cerdaskan bangsa
28 September 2024 1:24 WIB, 2024
BRIN anggarkan Rp300 juta/tahun danai "startup" berbasis riset di tanah air
27 July 2024 6:27 WIB, 2024