BPBD Gunung Kidul kirim air bersih bagi warga terdampak kekeringan Juni
Jumat, 28 Mei 2021 17:43 WIB
Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Universitas Islam Indonesia (UII) terus menggencarkan pasokan air bersih di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. ANTARA/HO/ACT
Gunung Kidul (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadwalkan pengiriman air bersih kepada warga terdampak kekeringan yang melanda wilayah ini pada awal Juni.
Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Gunung Kidul Handoko di Gunung Kidul, Jumat, mengatakan ada tiga kecamatan yang mulai terkena dampak kekeringan, dan membutuhkan air bersih, yakni Kecamatan Tepus, Panggang dan Saptosari.
"Beberapa kecamatan sudah terjadi kekeringan sejak beberapa waktu lalu dan masyarakat sudah membutuhkan penyaluran air bersih. Saat ini, BPBD tengah melakukan koordinasi bersama Camat untuk mengetahui kepastian data terdampak kekeringan. Kami akan mulai melakukan dropping air bersih awal Juni," kata Handoko.
Ia mengatakan dari tiga kecamatan tersebut, ada sekitar 38 dusun atau 1.935 kepala keluarga (KK) terkena dampak kekeringan. Kemudian, wilayah lain masih dalam pendataan. Artinya data tersebut data bergerak yang setiap waktu dapat berubah sesuai perkembangan situasi di lapangan.
Pada Kamis, BPBD bersama camat melakukan rapat koordinasi dan menyepakati pengiriman air bersih memang dilakukan lebih awal sebab kondisi di lapangan sudah sangat membutuhkan.
"Kekeringan di Gunung Kidul memang terjadi lebih awal dibandingkan 2020 yang baru mulai melanda pada 3 Agustus. Nanti kita sasar yang sangat membutuhkan air," katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunung Kidul Edy Basuki mengatakan BPBD sendiri menyediakan anggaran Rp700 juta untuk pengiriman air. Jumlah ini sama seperti anggaran tahun sebelumnya.
"Juni akan kita mulai. Untuk saat ini jumlah jiwa, KK, dan dusun terdampak kekeringan masih kami rekap," kata Edy Basuki.
Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Gunung Kidul Handoko di Gunung Kidul, Jumat, mengatakan ada tiga kecamatan yang mulai terkena dampak kekeringan, dan membutuhkan air bersih, yakni Kecamatan Tepus, Panggang dan Saptosari.
"Beberapa kecamatan sudah terjadi kekeringan sejak beberapa waktu lalu dan masyarakat sudah membutuhkan penyaluran air bersih. Saat ini, BPBD tengah melakukan koordinasi bersama Camat untuk mengetahui kepastian data terdampak kekeringan. Kami akan mulai melakukan dropping air bersih awal Juni," kata Handoko.
Ia mengatakan dari tiga kecamatan tersebut, ada sekitar 38 dusun atau 1.935 kepala keluarga (KK) terkena dampak kekeringan. Kemudian, wilayah lain masih dalam pendataan. Artinya data tersebut data bergerak yang setiap waktu dapat berubah sesuai perkembangan situasi di lapangan.
Pada Kamis, BPBD bersama camat melakukan rapat koordinasi dan menyepakati pengiriman air bersih memang dilakukan lebih awal sebab kondisi di lapangan sudah sangat membutuhkan.
"Kekeringan di Gunung Kidul memang terjadi lebih awal dibandingkan 2020 yang baru mulai melanda pada 3 Agustus. Nanti kita sasar yang sangat membutuhkan air," katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunung Kidul Edy Basuki mengatakan BPBD sendiri menyediakan anggaran Rp700 juta untuk pengiriman air. Jumlah ini sama seperti anggaran tahun sebelumnya.
"Juni akan kita mulai. Untuk saat ini jumlah jiwa, KK, dan dusun terdampak kekeringan masih kami rekap," kata Edy Basuki.
Pewarta : Sutarmi
Editor : Victorianus Sat Pranyoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kapuspen TNI: Sosok penyiram air keras Andrie Yunus akan terlihat saat sidang
16 April 2026 17:29 WIB
Terpopuler - Gunung Kidul
Lihat Juga
Diduga lakukan penyimpangan, Pemkab Gunungkidul mutasi petugas TPR Pantai Baron
10 April 2026 18:32 WIB
Pemkab Gunungkidul sebut dua skema bantuan perbaikan rumah tidak layak huni pada 2026
09 March 2026 17:23 WIB