Pemilu 2019 perlu jadi cermin Pemilu 2024
Sabtu, 3 September 2022 7:48 WIB
Pengurus PB PMI bersama anggota KPU RI usai audiensi di Jakarta, Kamis (2/9/2022). (ANTARA/HO-PB PMII)
Kupang (ANTARA) - Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) berharap Pemilu 2019 lalu dapat menjadi catatan penting bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam mengoptimalkan penyelenggaraan Pemilu 2024.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB PMII Rafsanjani dalam keterangan yang diterima di Kupang, Sabtu, menyampaikan harapan saat beraudiensi dengan KPU RI di Jakarta guna menyampaikan sejumlah pokok pikiran penting sebagai masukan.
"Pelaksanaan Pemilu 2019 harus menjadi catatan penting bagi penyelenggara pemilu seperti KPU dalam memaksimalkan Pemilu 2024," kata Rafsanjani.
Selain itu, pihaknya juga mendorong aksesibilitas logistik kepada daerah-daerah di luar Pulau Jawa, agar narasi Indonesia sentris dapat direalisasikan Pemerintah.
"Untuk Pemilu 2024, PB PMII mendorong dan mengawal sejumlah isu utama dalam pelaksanaan pemilu, seperti partisipasi masyarakat, korupsi pemilu, eks koruptor, kampanye di kampus, dan sejumlah isu turunan lainnya," jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Pemantau Pemilu PB PMII Hasnu menjelaskan beberapa cacatan kritis hasil pemantauan setiap tahapan pelaksanaan pemilu.
Pertama, Dia Tim Pemantau Pemilu PB PMII menyoroti insiden pencatutan nama penyelenggara, baik KPU maupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), bahkan nama warga menjadi kader parpol.
"Pemantau Pemilu PB PMII akan melaporkan sejumlah parpol yang tidak patuh terhadap UU Pemilu dan aturan main KPU ke Bawaslu; dan bahkan akan memproses hal tersebut ke tindak pidana umum yang menjadi kewenangan pihak kepolisian," katanya.
Kedua, Pemantau Pemilu PB PMII juga mendorong caleg eks koruptor perlu mendapat peringatan khusus melalui keterangan pada alat peraga kampanye dan surat suara bahwa yang bersangkutan adalah "mantan narapidana korupsi".
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB PMII Rafsanjani dalam keterangan yang diterima di Kupang, Sabtu, menyampaikan harapan saat beraudiensi dengan KPU RI di Jakarta guna menyampaikan sejumlah pokok pikiran penting sebagai masukan.
"Pelaksanaan Pemilu 2019 harus menjadi catatan penting bagi penyelenggara pemilu seperti KPU dalam memaksimalkan Pemilu 2024," kata Rafsanjani.
Selain itu, pihaknya juga mendorong aksesibilitas logistik kepada daerah-daerah di luar Pulau Jawa, agar narasi Indonesia sentris dapat direalisasikan Pemerintah.
"Untuk Pemilu 2024, PB PMII mendorong dan mengawal sejumlah isu utama dalam pelaksanaan pemilu, seperti partisipasi masyarakat, korupsi pemilu, eks koruptor, kampanye di kampus, dan sejumlah isu turunan lainnya," jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Pemantau Pemilu PB PMII Hasnu menjelaskan beberapa cacatan kritis hasil pemantauan setiap tahapan pelaksanaan pemilu.
Pertama, Dia Tim Pemantau Pemilu PB PMII menyoroti insiden pencatutan nama penyelenggara, baik KPU maupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), bahkan nama warga menjadi kader parpol.
"Pemantau Pemilu PB PMII akan melaporkan sejumlah parpol yang tidak patuh terhadap UU Pemilu dan aturan main KPU ke Bawaslu; dan bahkan akan memproses hal tersebut ke tindak pidana umum yang menjadi kewenangan pihak kepolisian," katanya.
Kedua, Pemantau Pemilu PB PMII juga mendorong caleg eks koruptor perlu mendapat peringatan khusus melalui keterangan pada alat peraga kampanye dan surat suara bahwa yang bersangkutan adalah "mantan narapidana korupsi".
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor : Herry Soebanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
LPSK menemukan satu dari 13 korban TPPO di Maumere asal Jabar anak dibawah umur
26 February 2026 17:22 WIB
Wamen HAM: Kejadian siswa SD mengakhiri hidup di NTT "wake-up call" bagi negara
06 February 2026 19:43 WIB
Kemensos mengiirimkan tim untuk mendampingi keluarga dari kasus anak SD di NTT
04 February 2026 19:08 WIB
Menko PM merespons insiden tragis siswa SD di NTT, minta agar pemda terbuka
04 February 2026 18:20 WIB
DPR sebut insiden tragis di NTT "pukulan berat", Komisi X segera menelusuri
04 February 2026 18:13 WIB