Kemensos mengiirimkan tim untuk mendampingi keluarga dari kasus anak SD di NTT

id siswa SD, bunuh diri, Ngada, NTT, kemensos,bunuh diri di ngada,kasus bunuh diri anak di ngada

Kemensos mengiirimkan tim untuk mendampingi keluarga dari kasus anak SD di NTT

Tim petugas Sentra Efata Kementerian Sosial berdialog dengan keluarga dari anak Sekolah Dasar yang meninggal dunia dan diduga nekad mengakhiri hidup akibat keterbatasan ekonomi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Rabu (4/2/2026). ANTARA/HO-Humas Kemensos

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Sosial mengirimkan tim asesmen ke Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, untuk mendampingi keluarga dari siswa Sekolah Dasar berusia 10 tahun yang meninggal dunia dan diduga nekad mengakhiri hidup akibat keterbatasan ekonomi.

"Sekarang tim petugas kami sudah ada di Ngada, lagi bicara sama orang tuanya yang masih berduka. Masih sedang asesmen di lapangan,” kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.

Kementerian Sosial dalam kesempatan tersebut turut menyalurkan dana santunan dan bantuan logistik dengan total senilai Rp9 juta untuk keluarga korban. Adapun masing-masing berupa santunan sosial senilai Rp5 juta, bantuan sembako dan nutrisi senilai Rp1,5 juta serta dukungan bantuan sandang senilai Rp2,5 juta.

Bahkan, Saifullah memastikan bahwa pemerintah termasuk Kementerian Sosial juga akan memastikan keberlanjutan pendidikan bagi beberapa saudara korban. “Ada kakaknya yang akan kita coba untuk bisa bersekolah. Apakah di sekolah-sekolah yang dekat sana atau nanti di Sekolah Rakyat,” cetusnya.

Seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, berinisial MGT (47 tahun).

Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:

“Surat buat Mama ****
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.

Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya, karena ibundanya, yang merupakan orangtua tunggal, bekerja sebagai petani dan kerja serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.

Saifullah menekankan bahwa peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya penguatan data sosial dan ekonomi masyarakat agar negara dapat lebih cepat dan tepat memberikan perlindungan kepada keluarga prasejahtera.

Penguatan data tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2025 tentang Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang menjadi dasar penyaluran bantuan sosial, termasuk program Sekolah Rakyat.

"Peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya penguatan data yang akurat. Dengan data yang akurat, semuanya bisa diberi perlindungan dan diberikan dukungan yang tepat. Jadi mudah-mudahan tidak terjadi lagi dan bisa kita mitigasi, kita cegah hal-hal seperti ini ke depan,” kata dia.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.