Yogyakarta (ANTARA) - Suasana hangat menyelimuti pagi di Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta saat ribuan mahasiswa baru berkumpul di halaman depan Gedung Siti Walidah Unisa Yogyakarta, Selasa (16/9). Ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia bahkan dunia itu disambut oleh keluarga baru Unisa Yogyakarta.
Jajaran pimpinan rektorat dengan pakaian lurik, memasuki halaman Gedung Siti Walidah dengan menaiki becak, transportasi tradisional yang lekat dengan keseharian masyarakat Yogyakarta. Tepuk tangan dan sambutan meriah pun mengiringi kedatangan Rektor dan Wakil Rektor Unisa Yogyakarta.
Pada tahun ini Unisa Yogyakarta menerima 2.451 mahasiswa baru, 18 di antaranya merupakan mahasiswa asing. Sebanyak18 mahasiswa asing itu terdiri atas 12 mahasiswa dari Timor Leste, 1 mahasiswa dari Ghana, 1 mahasiswa dari Nigeria, 3 mahasiswa dari Thailand, dan 1 mahasiswa dari Sudan.
"Mahasiswa baru Unisa Yogyakarta hadir dari 36 provinsi dari 38 provinsi di Indonesia. Semua kepulauan telah terwakili. Ada juga mahasiswa asing dari Timor Leste, Ghana, Nigeria, Thailand, dan Sudan. Harus berbangga menjadi mahasiswa baru Unisa Yogyakarta," kata Rektor Unisa Yogyakarta Warsiti.
Kehadiran Unisa Yogyakarta sebagai tempat menimba ilmu bagi mahasiswa luar negeri, semakin mengokohkan internasionalisasi yang dilakukan Unisa Yogyakarta.
"Kami memang menguatkan terhadap internasionalisasi. Namun demikian, kami di Yogyakarta harus mengenalkan Yogyakarta juga sebagai kota budaya. Tadi menggunakan transportasi becak, menggunakan kostum Jawa. Harapannya mahasiswa baru juga menjunjung nilai budaya,” ucap Warsiti.
Warsiti juga mengharapkan maba Unisa Yogyakarta dapat menjadi orang-orang yang tangguh, berintegritas, mampu berkarya dan berdampak. "Bukan hanya meraih IPK bagus, tetapi juga bagaimana memiliki karakter disiplin, jujur, pantang menyerah, dan menjadi manusia yang memberi manfaat lebih luas," ujar Warsiti.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah, Salmah Orbayinah menilai Unisa Yogyakarta memiliki keunggulan lebih dibanding kampus lain. Tidak hanya kampus yang ada di bawah Aisyiyah, tetapi juga kampus lain di luar itu.
Salmah mengharapkan para mahasiswa bisa menjadi calon-calon cendekiawan unggul, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi moralitas. "Kemudian tidak hanya cendekiawan tetapi juga pemimpin, calon pemimpin bangsa. Diharapkan mampu menjadi agen perubahan Indonesia ke arah lebih baik," ucap Salmah.
Salah satu mahasiswa dari luar negeri, Sulaiman A Majeed menilai Indonesia salah satu negara terbaik, banyak orang ingin tinggal di Indonesia, terutama dari Afrika.
"Kemudian saya melihat Unisa Yogyakarta dan melihat perkembangannya. Saya memutuskan kuliah di Unisa Yogyakarta dan saya diterima. Saya sangat gembira mendengarnya," ujar mahasiswa asal Sudan itu.
Sulaiman memilih Program Studi Teknologi Informasi di Unisa Yogyakarta. Dia berharap dapat mengikuti perkuliahan dengan baik, dan menyelesaikan perkuliahan tepat waktu.