Jayapura (ANTARA) - Perum Bulog Kantor Wilayah Papua dan Papua Barat menyebutkan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di wilayah setempat tercatat mencapai sekitar 20.567 ton per Januari 2026 sehingga optimis target realisasi akan terpenuhi.
Pimpinan Bulog Papua dan Papua Barat Ahmad Mustari di Jayapura, Jumat mengatakan, pihaknya terus berkomitmen menjaga stabilitas pasokan dan harga.
"Program SPHP merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menekan gejolak harga pangan sekaligus menjaga daya beli masyarakat, khususnya di wilayah Papua dan Papua Barat," katanya.
Menurut Mustari, wilayah Papua memang memiliki banyak kendala, terutama terkait pendistribusian via udara yang membutuhkan waktu.
"Ini juga bagian dari upaya menyalurkan bantuan program nasional,” ujarnya.
Baca juga: Mentan-Barantin tindak masuknya 1.000 ton beras ilegal di Kepri
Baca juga: Harga beras di Pasar Niten pada Selasa stabil
Dia menjelaskan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menargetkan, Bulog Papua dan Papua Barat untuk menyalurkan beras SPHP pada 2026 sebesar 87 ribu ton di mana angka tersebut cukup tinggi.
"Target tersebut dinilai cukup besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yakni 20 ribu ton, tetapi 2026 target 87 ribu ton,” katanya lagi.
Dia menambahkan, untuk mengejar kekurangan realisasi tersebut, Bulog Papua bekerja sama dengan ribuan toko yang tersebar di enam provinsi di Tanah Papua, serta terus berkoordinasi dengan instansi terkait.
"Penyaluran beras SPHP dilakukan melalui berbagai saluran distribusi, termasuk pasar tradisional dan mitra penjualan, agar masyarakat dapat memperoleh beras dengan harga terjangkau," ujarnya.
Baca juga: Bapanas: Masyarakat bisa beli beras SPHP 5 pak mulai Februari
Baca juga: Perum Bulog salurkan 1 ton beras untuk pengungsi banjir di Kudus