Yogyakarta (ANTARA) - Institut Français Indonesia (IFI) Yogyakarta menggandeng sejumlah seniman dan animator dalam menghadirkan mural interaktif berbasis augmented reality (AR) sebagai bagian dari renovasi ruang baca anak di Mediatek IFI Yogyakarta.
Wilfridus Pradnya Parama Putra (33) salah satu staf IFI, di Yogyakarta, Jumat, mengatakan tokoh yang dihadirkan dalam mural dipilih melalui diskusi internal dengan mempertimbangkan kontribusinya terhadap Indonesia serta kesesuaian dengan motto IFI yakni kreativitas, keberagaman, dan kebebasan.
“Kami mencari tokoh yang inspiratif. R.A. Kartini dan Henri Cartier-Bresson dipilih karena perannya, termasuk kedekatan Cartier-Bresson dengan Indonesia dan dokumentasinya tentang sejarah serta budaya,” ujarnya.
Proyek bertajuk “Imajinasi yang Membebaskan” itu menggabungkan seni mural dan animasi digital untuk menghadirkan ruang literasi yang lebih ramah dan inspiratif bagi anak-anak.
Seniman mural Vina Puspita (38) menjelaskan konsep mural merupakan brief dari IFI yang ingin menampilkan nuansa Indonesia Prancis melalui figur-figur berpengaruh di bidang seni dan budaya.
Selain Kartini dan Cartier-Bresson, Vina mengusulkan menghadirkan Didik Nini Thowok sebagai representasi seni tradisi yang terbuka pada inovasi lintas gender, serta elemen “Flying Angels” karya Heri Dono sebagai simbol kebebasan berekspresi.
Menurut Vina tantangan utama dalam pengerjaan mural justru terletak pada upaya menghadirkan kemiripan figur tokoh dan proses pengerjaan mural tersebut memakan waktu sekitar lima hari.
IFI Yogyakarta bersama tim melibatkan sekitar 30 murid SD Tumbuh 2 dalam lokakarya mewarnai dan diskusi sebelum finalisasi desain, dimana ide dari anak-anak, termasuk tambahan bingkai foto dan eksplorasi warna, diintegrasikan ke dalam mural.
“Jadinya bukan hanya IFI punya mural, tapi anak-anak punya pengalaman membuat karya bersama,” ujar Vina.
Animator Wahyu Nurul Iman (25) kemudian menghidupkan mural tersebut melalui animasi berdurasi sekitar 10 detik yang dapat diakses menggunakan aplikasi Artivive.
Dalam proses animasi, Wahyu menggunakan kombinasi teknik motion graphic dan frame by frame dengab tantangan terbesarnya adalah menganimasikan karakter Didik Nini Thowok yang membutuhkan referensi gerak tari secara detail.
Konsep animasi menampilkan Henri Cartier-Bresson seolah memotret “Flying Angels”, lalu hasil fotonya masuk ke dalam bingkai yang terinspirasi dari ide anak-anak peserta lokakarya.
Melalui pemindaian kode QR atau aplikasi Artivive di ponsel, pengunjung dapat melihat elemen mural bergerak secara digital. Vina dan Wahyu berharap kolaborasi seni mural dan animasi digital ini dapat memantik rasa ingin tahu anak-anak terhadap tokoh-tokoh yang ditampilkan sekaligus membuka peluang eksplorasi kreatif di masa depan.
“Harapannya anak-anak jadi penasaran, membaca, dan mungkin ingin tahu bagaimana gambar bisa digerakkan,” kata Wahyu.