Jakarta (ANTARA) - Penjabat Menteri Ketenagakerjaan Filipina Benedicto Ernesto R. Bitonio mengatakan ASEAN berkomitmen memajukan migrasi tenaga kerja yang adil dan aman melalui dialog regional.

"Sebagai Ketua ASEAN, Filipina berkomitmen untuk memajukan migrasi tenaga kerja yang adil, tertib, aman, dan teratur melalui dialog, kerja sama, dan inisiatif regional yang menjunjung tinggi hak dan martabat migran, termasuk keluarga mereka," kata Bitonio dalam keterangan resmi ASEAN 2026 yang diterima di Jakarta, Ahad (3/5).

Sementara itu, Menteri Pekerja Migran Hans Leo J. Cacdac mengatakan Filipina berkomitmen memimpin upaya ASEAN untuk menempatkan pekerja migran sebagai pusat kebijakan.

"Filipina terus memimpin upaya ASEAN untuk menempatkan pekerja migran sebagai pusat kebijakan, memperkuat perlindungan, kesiapan, dan kerja sama regional dalam lanskap mobilitas yang semakin kompleks," katanya.

Para perwakilan negara anggota ASEAN mengikuti Pertemuan Meja Bundar Tingkat Tinggi ASEAN bertema "Migrasi di Persimpangan Jalan: Memajukan Kerja Sama Regional yang Berorientasi pada Solusi di Asia Tenggara".

Pertemuan itu digelar Departemen Pekerja Migran dan Departemen Ketenagakerjaan Filipina bersama Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), dengan dukungan Sekretariat ASEAN.

Diskusi berfokus pada perlindungan hak pekerja migran dan penguatan kerja sama regional guna memastikan akses jalur migrasi tenaga kerja yang aman dan teratur.

Upaya tersebut sejalan dengan tema ASEAN 2026 di bawah kepemimpinan Filipina, "Mengarungi Masa Depan Bersama."

Peserta menggarisbawahi mobilitas di Asia Tenggara semakin kompleks akibat megatrend yang saling terkait.

Faktor tersebut meliputi pertumbuhan ekonomi, pergeseran demografis, urbanisasi cepat, transformasi digital, serta berbagai guncangan lainnya.

Pada 2024, lebih dari 24 juta migran internasional berasal dari negara anggota ASEAN. Di lain lain, ASEAN menampung sekitar 11 juta migran internasional, termasuk 7 juta migran intra-ASEAN. Data itu menunjukkan tingginya keterkaitan mobilitas di kawasan.

Migrasi tenaga kerja tetap menjadi salah satu dinamika migrasi paling signifikan di ASEAN.

Diskusi juga menyoroti dampak perkembangan global terhadap pekerja migran, keluarga, dan komunitas mereka.

Karena itu, diperlukan respons regional yang terkoordinasi, berorientasi pada perlindungan, dan berwawasan ke depan, menurut keterangan resmi tersebut.

ASEAN juga menegaskan bahwa migrasi dapat menjadi penggerak pembangunan jika dikelola dengan baik. Hal itu mencakup perluasan jalur aman dan teratur, peningkatan mobilitas, serta pengembangan keterampilan.

Selain itu, diperlukan penguatan perlindungan serta peningkatan akses terhadap informasi, layanan, dan sistem pendukung.

ASEAN juga sepakat memperkuat sistem perlindungan dan mengarusutamakan standar perekrutan yang adil dan etis.

Langkah-langkah lainnya meliputi memastikan akses terhadap mekanisme pengaduan dan ganti rugi.

Selain itu, negara anggota mendukung kepulangan yang aman serta reintegrasi berkelanjutan. Negara anggota juga mengeksplorasi penguatan kemitraan multilateral dan bilateral.

Kemitraan tersebut melibatkan pemerintah, mitra pembangunan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Diskusi lebih lanjut menekankan pentingnya tata kelola migrasi yang siap menghadapi masa depan dan berbasis risiko.

Sementara itu, IOM menegaskan kembali komitmennya sebagai mitra jangka panjang ASEAN dan menyoroti sifat lintas sektoral isu migrasi.

Pertemuan tersebut digelar menjelang Forum Tinjauan Migrasi Internasional (IMRF) dan KTT ASEAN ke-48.

Forum ini juga menjadi bagian dari agenda Pertemuan Pejabat Senior Tenaga Kerja ASEAN (SLOM) dalam Rencana Aksi 2026-2030 perlindungan pekerja migran.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Filipina: ASEAN dorong migrasi tenaga kerja yang adil dan aman