Logo Header Antaranews Jogja

Pengamat: Sudomo loyal pada pimpinan

Rabu, 18 April 2012 17:49 WIB
Image Print
Sudomo.antaranews.com (sudomo)

Jogja (ANTARA Jogja) - Mantan Pangkopkamtib Laksamana TNI (Purn) Sudomo merupakan sosok yang loyal pada pimpinan, kata pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Arie Sujito.

"Loyalitas pada pimpinan itu menyebabkan Sudomo dikenal sebagai bemper Presiden Soeharto yang notabene merupakan penguasa Orde Baru dalam mempertahankan kekuasaannya," katanya di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, hal itu menjadikan Sudomo dikenal sebagai panglima Orde Baru di garda depan untuk mengamankan kekuasaan Soeharto dengan pendekatan represif, yang membuat sosoknya tidak populer di kalangan aktivis prodemokrasi.

"Sudomo merupakan komando lapangan Orde Baru untuk memperkuat kekuasaan Soeharto dengan memberangus gerakan prodemokrasi. Hal itu membuat dirinya dianggap `musuh` aktivis prodemokrasi pada era Orde Baru," kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah mada (UGM) ini.

Ia mengatakan Sudomo melakukan semua itu sebagai bentuk loyalitas pada pimpinan, yang telah memberi kepercayaan kepada dirinya sebagai Pangkopkamtib yang bertanggung jawab mengendalikan keamanan dan ketertiban.

"Selain dikenal sebagai sosok yang kontroversial di kalangan aktivis prodemokrasi, Sudomo juga menjadi sosok yang legendaris di kalangan Orbais, dan tokoh fenomenal pada era Orde Baru," kata Arie.

Sudomo yang juga mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan meninggal dunia pada Rabu sekitar pukul 10.15 WIB, setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta, karena diduga mengalami perdarahan otak.

Sudomo yang lahir di Malang, Jawa Timur, pada 20 September 1926 itu, pernah menjabat Kepala Staf TNI AL pada 1969-1973, dan Pangkopkamtib pada 1978-1983.

Sudomo yang juga pernah menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) ini dikenal mampu menangani berbagai kemelut keamanan dalam negeri secara dingin.

(L.B015)



Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026