
CRCS kecewa pembatalan diskusi Irshad Manji

Jogja (ANTARA) - Ketua Center for Religius and Cross Cultural Studies Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Zaenal Arifin Bagir mengaku kecewa dengan sikap pimpinan universitas yang membatalkan diskusi bersama Irshad Manji.
"Pembatalan diskusi bersama aktivis feminisme dari New York University, Amerika Serikat (AS), Irshad Manji yang akan membedah bukunya berjudul `Allah, Liberty and Love` itu merupakan hal yang mengecewakan dan merupakan bukti bahwa atmosfer akademik sudah terancam," katanya di Yogyakarta, Rabu.
Menurut dia, larangan diskusi itu disampaikan langsung secara tertulis atas nama rektor UGM maupun direktur Sekolah Pascasarjana UGM. Meskipun berupa larangan tertulis, pihaknya telah melakukan konfirmasi untuk bisa memberikan pernyataan langsung ke media.
"Diskusi itu dilarang karena alasan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Center for Religius and Cross Cultural Studies (CRCS) selaku penggagas diskusi tersebut sudah mengajukan permohonan agar diskusi dapat berjalan terus, tetapi tetap tidak boleh," katanya.
Ia mengatakan, diskusi semacam itu sebenarnya merupakan kegiatan yang telah berjalan selama bertahun-tahun. Diskusi tentang berbagai tema digelar sebagai agenda rutin dengan mengundang tokoh tertentu sebagai pembicara.
Irshad Manji mengatakan, pembatalan diskusi yang dilakukan UGM tersebut menunjukkan kebebasan dalam konstitusi sekuler yang dimiliki Indonesia, satu per satu mulai pudar.
"Jika pelarangan diteruskan, maka kita tidak tahu di mana hukum itu berakhir kecuali pada kekerasan," katanya.
Sementara itu, Direktur Sekolah Pascasarjana UGM Hartono mengatakan, sejak semalam telah resmi membatalkan diskusi yang digagas CRCS tersebut. Pembatalan itu terkait dengan adanya kewaspadaan terhadap gerakan yang menolak kegiatan tersebut.
"Atas perintah rektor, sejak semalam sudah resmi saya batalkan. Pertimbangannya macam-macam terutama ada gerakan-gerakan menentang yang diwaspadai sejak Minggu (6/5)," katanya.
Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UGM Suryo Purwono mengatakan, secara akademik sebenarnya bukan merupakan diskusi yang memiliki masalah. Namun, pihaknya tetap harus menimbang seberapa manfaat dan dampak yang akan ditimbulkan.
Secara akademik, menurut dia, diskusi itu memang bermanfaat bagi beberapa orang tertentu. Namun, bagi kalangan secara luas mungkin tidak ada manfaatnya.
"Jadi, kami tidak hanya melihat secara akademik, tetapi juga secara keseluruhan. Apalagi jika ada orang-orang luar yang memanfaatkannya, hal itu yang menjadi pertimbangan kami," katanya. (B015)
Pewarta :
Editor:
Agus Priyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
