Bantul (ANTARA Jogja) - Sentra industri kerajinan kulit Manding Desa Sabdodadi, Kecamatan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mampu memsejahterakan dan mengangkat perekonomian perajin yang merupakan warga setempat.
"Keberadaan sentra kerajinan ini setidaknya mampu memberikan pekerjaan kepada sebanyak 300 lebih perajin yang merupakan warga setempat," kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sentra kerajinan kulit Manding, Jumakir di Bantul, Sabtu.
Menurut dia, di sepanjang sentra industri kerajinan kulit Manding ini terdapat sebanyak 48 toko dan outlet yang menjual berbagai kerajinan kulit yang merupakan produk unggulan perajin setempat.
Ia menyebutkan berbagai barang kerajinan kulit itu diantaranya seperti ikat pinggang, dompet, tas sepatu hingga jaket yang langsung diproduksi di 42 rumah produksi yang terdapat di tengah pemukiman penduduk.
"Saat liburan seperti libur sekolah, hari raya dan libur akhir tahun, sentra ini selalu dipadati pengunjung mulai dari lokal hingga luar daerah, sehingga saat-saat itu transaksi juga meningkat," katanya.
Ia mengatakan, sentra kerajinan kulit Manding berdiri sejak 1947 ini awalnya dikembangkan tiga orang warga setempat yang merupakan perajin pelana atau pakaian kuda untuk andong-andong kraton Yogyakarta waktu itu.
Akan tetapi, kata dia, pembuatan pelana itu banyak menyisakan kulit dan selamanya tidak akan membuat pelana maka perajin tersebut berinovasi untuk mengembangkan sepatu, dompet dan barang kerajinan lainnya.
"Butuh waktu sekitar 10 tahun untuk mempelajari itu, dan awalnya berdiri tiga rumah produksi ditambah kerajinan memiliki pasar di Beringharjo, maka sejak saat ini telah berkembang dan menjadi salah satu tujuan wisata belanja," katanya.
Ia mengatakan, sentra kerajinan kulit Manding pernah mendapat respon dari sejumlah pemangku kepentingan, diantaranya dari Departemen Perindustrian RI yang mengenalkan berbagai variasi model yang mendunia, juga bantuan koperasi.
"Sebenarnya ada lebih dari 600 orang sebagai perajin kulit warga setempat, karena banyak yang dikontrak pengusaha dari luar daerah, seperti dari Bali yang menjanjikan upah lebih besar," katanya.(.KR-HRI)
