Logo Header Antaranews Jogja

Kerajinan difabel Bantul tembus pasar Eropa

Selasa, 31 Juli 2012 13:49 WIB
Image Print
barang kerajinan difabel bantul (Foto ANTARA/Sidik)

Bantul (ANTARA Jogja) - Barang kerajinan yang dibuat para penyandang cacat atau difabel yang tergabung dalam Mandiri Craft di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dipasarkan sampai ke sejumlah negara di Eropa.

"Selain dikirim ke sejumlah daerah di Indonesia, produksi kita juga pernah dikirim ke luar negeri seperti Belanda dan Jerman," kata Manager Yayasan Mandiri Craft Cabean, Sewon, Bantul, Tarjono Slamet di Bantul, Selasa.

Menurut dia, yayasan Mandiri Craft merupakan yayasan penyandang cacat mandiri yang memproduksi barang kerajinan dari kayu di antaranya pernak-pernik, alat peraga, "puzzle", mainan edukatif yang dibentuk seperti kapal dan kereta.

Ia mengatakan, dalam sebulan setidaknya yayasan ini mampu mengirim sebanyak 1.000 lebih barang kerajinan, baik yang berukuran kecil, sedang hingga besar yang dijual dengan harga mulai Rp6.000 hingga Rp750.000 per buah.

"Pengiriman sebanyak itu sudah termasuk ke sejumlah daerah seperti di Cirebon, Jakarta hingga Sumatera. Pesanan barang didominasi `puzzle` dan permainan edukatif untuk koleksi di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)," katanya.

Bahkan, kata dia, dalam beberapa tahun terakhir, barang kerajinan difabel rutin dikirim ke Jepang dan Australia. Namun untuk tahun ini pengiriman ke luar negeri belum ada. "Kita masih berharap tahun ini sejumlah negara memesan di tempat ini," katanya.

Menurut dia, barang kerajinan yang dihasilkan para penyandang cacat terutama alat peraga desainnya berasal dari PAUD maupun pengembangan kreasi para difabel, sehingga untuk menghasilkan produk yang menarik juga butuh kreativitas mereka.

Oleh sebab itu, kata dia, untuk memperkaya model barang kerajinan Mandiri Craft, secara berkala diadakan pelatihan keterampilan bagi para difabel, kemudian program rehabilitasi berbasis komunitas.

Ia mengatakan, yayasan yang berdiri sejak 2003 ini keberadaannya pasang surut, karena pada 2006 sempat terkena gempa yang mengakibatkan sejumlah peralatan rusak, namun berkat bantuan dari Jepang bisa bangkit lagi.

"Yayasan saat ini telah menampung 42 difabel, mereka difasilitasi tempat tinggal dan diberi pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Kita berharap ini bisa menjadi wadah para difabel untuk lebih mandiri," katanya.

(T.KR-HRI)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026