Logo Header Antaranews Jogja

Pemerintah segera dirikan Akademi Komunitas percontohan

Jumat, 24 Agustus 2012 21:30 WIB
Image Print
Mendikbud Moh Nuh (antaranews.com)

Jakarta (ANTARA Jogja) - Pemerintah segera mendirikan akademi komunitas percontohan di sejumlah kota dan kabupaten yang menjadi prioritas, terutama di kantong-kantong tenaga kerja Indonesia.

"Bulan depan akan dimulai tiang pancang pendirian akademi tersebut di Pacitan," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Jumat.

Mendikbud mengatakan pendirian Akademi Komunitas juga diprioritaskan di daerah yang memiliki sumber daya alam cukup melimpah, tetapi belum mampu dikelola dengan baik. Adapun dana yang dianggarkan untuk pendirian Akademi Komunitas percontohan di Pacitan sebanyak Rp50 miliar.

Akademi tersebut berstatus negeri dan pendidikan vokasi setingkat diploma satu dan/atau diploma dua ini membuka empat program studi yaitu otomotif, agro, teknologi informasi, dan perhotelan. "Kami harus mendorong pendidikan vokasi," katanya.

Akademi Komunitas juga akan dibangun di Kota Palembang dengan menelan anggaran sebanyak Rp 40 miliar. Daerah lain yang akan dibangun AK yaitu di Temanggung, Aceh Barat, Sumenep, Blitar, Lampung Tengah, Situbondo, Rejang Lebong, Sumbawa, Sidoarjo, Nganjuk, Bojonegoro, Kolaka, Tanah Datar, Kota Mataram, Kota Prabumulih, dan Tuban.

Mendikbud mengatakan biaya kuliah di Akamedi Komunitas lebih murah dan lebih terjangkau dibandingkan dengan politeknik. Menurut dia, investasi pemerintah harus lebih besar. "Banyak juga peminat swasta dan perusahaan-perusahaan (yang ingin mendirikan AK)," katanya.

Ia menyebutkan sasaran pendirian Akademi Komunitas adalah untuk meningkatkan kualitas ketenagakerjaan, memperbesar akses ke perguruan tinggi, dan meningkatkan angka partisipasi kasar (APK).

Menurut Mendikbud, kebutuhan sarana dan prasarana Akademi Komunitas lebih mudah untuk dipenuhi. Namun, menurut dia yang tidak mudah adalah menyiapkan tenaga pengajar. Tenaga di AK bisa dosen lulusan S2 dari perguruan tinggi atau instruktur dari industri.

"Instruktur itu yaitu orang yang tidak harus S2, tetapi memiliki keahlian tertentu. Misalkan saja orang-orang yang sudah berpengalaman di pabrik," katanya.

Mohammad Nuh mengatakan meskipun bukan lulusan S2, tetapi karena kompetensinya berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), bisa dibuat ekuivalensinya, sehingga diakui disamping jadi instruktur, bisa menjadi dosen.

(Z003)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026