
23 perusahaan asing di Bantul pasif

Jogja (ANTARA Jogja) - Sebanyak 23 perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) yang beroperasi di wilayah Kabupaten Bantul dalam kondisi pasif dari total 53 perusahaan PMA yang beroperasi disana.
"Dikatakan pasif karena perusahaan itu tidak melaporkan perkembangan usahanya ke dinas," kata Kepala Bidang Penanaman Modal (PM), Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul, Kesi Irawati di Bantul, Selasa.
Dengan didampingi Kepala Seksi Promosi Investor PM, Emanuel Subono mengatakan, sementara 30 perusahaan PMA lainnya masih aktif.
Meski begitu pihaknya tidak bisa mencabut dari daftar perusahaan asing dalam perkembangan investor di Bantul, karena perusahaan yang bersifat Perseroan Terbatas (PT) itu berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pusat.
"Walaupun perusahaan sudah tidak ada di lokasi dan sudah tidak beroperasi, namun kita tidak bisa mencabut daftar, karena kita hanya memfasilitasi, untuk pencabutan usaha itu merupakan kewenangan dari pusat," kata dia.
Ia mengatakan, terkait itu pihaknya memang sudah melaporkan ke BKPM Provinsi DIY, karena dengan pasifnya perusahaan itu jelas tidak bisa memberikan kontribusi atau pajak ke kabupaten.
"Memang tidak ada pajak yang masuk, dan kita kesulitan melakukan konfirmasi, namun kita sudah melapor ke provinsi," katanya.
Sementara, jumlah investor asing yang masuk ke Bantul pada 2012 ini lanjut dia, sampai saat ini belum ada, namun pada 2011 lalu ada tujuh perusahaan baru dengan modal asing yang masuk dan semuanya berbentuk PT.
"Untuk 2012 sampai saat ini belum ada perusahaan baru dengan modal asing yang masuk, kalaupun ada mungkin masih ijin prinsip maupun ijin usaha dan itu berada di Dinas Perijinan Bantul," katanya.
Menurut dia, sesuai data terakhir yang diperoleh dari tinjauan lapangan dan izin dari BKM maupun laporan perusahaan dari Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), dari perusahaan asing yang aktif itu menyerap tenaga kerja sebanyak 6.969 orang.
(KR-HRI)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
