
Petani Bantul pilih simpan panen daripada dijual

Bantul (ANTARA Jogja) - Sebagian petani padi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, lebih memilih menyimpan hasil panennya dalam bentuk beras untuk dikonsumsi sendiri dari pada dijual meskipun harga di pasaraan saat ini tinggi.
"Meski harga beras saat ini tinggi, saya tetap menyimpan panen padi untuk jaga-jaga sebagai kebutuhan konsumsi sendiri," kata petani padi Grojogan, Desa Tamanan, Poniman di Bantul, Rabu.
Menurut dia, harga beras beberapa pekan pascalebaran ini masih berkisar antara Rp7.000,00 sampai Rp7.500,00 per kilogram. Namun tidak membuat petani tergiur untuk menjual hasil panenan, apalagi saat kemarau seperti sekarang ini menyimpan panen sangat perlu.
Ia mengatakan, dirinya yang panen padi seluas 400 meter persegi belum lama ini menghasilkan beras rata-rata empat kilogram per lubang (10 x 1 meter), sehingga total produksinya sebanyak 160 kilogram beras.
"Hasilnya kan tidak banyak, sehingga disimpan saja untuk dikonsumsi sendiri, nanti juga habis dalam beberapa bulan ke depan sambil menunggu panen berikutnya," katanya.
Menurut dia, hasil panen tersebut tergolong baik, karena lahannya tidak mengalami masalah baik perairan maupun serangan hama, sehingga setelah panen petani bersemangat untuk menanam padi lagi.
"Kalau saat ini umur padi baru berusia sekitar 20 hari, setidaknya akan panen dalam tiga bulan ke depan," katanya.
Petani padi lainnya, Suryanto mengatakan, dirinya mengaku hasil panen yang hanya sebanyak 120 kilogram dari lahan sawah 300 meter persegi miliknya cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
"Kalaupun sisa hanya sedikit dan dijual untuk membeli lauk atau sayuran, namun saya lebih memilih banyak menyimpan panen untuk digiling sendiri menjadi beras," katanya.
Ia mengatakan, lahan pertanian di daerah ini menurutnya tidak ada permasalahan dalam irigasi karena termasuk daerah dekat aliran sungai (DAS), meskipun kecil, sehingga kemarau ini tidak mengancam pertanian miliknya.
"Kalau dalam setahun saya dapat musim tanam hingga tiga kali, berbeda dengan wilayah selatan, yang hanya sekitar tiga kali," katanya.
(T.KR-HRI)
Pewarta :
Editor:
Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026
