
Penghijauan lereng Merapi tidak optimal

Sleman (ANTARA Jogja) - Penghijauan di kawasan terdampak erupsi Gunung Merapi di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta terancam tidak optimal karena ribuan bibit pohon banyak yang mati karena tidak terawat dengan baik.
Kepala Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan Heri Suprapto, Jumat mengatakan, banyak donatur yang melakukan kegiatan penanaman di lereng Merapi tanpa koordinasi dengan pemerintah desa setempat.
"Akibatnya penanaman pohon penghijauan tersebut ditanam di tempat yang tidak tepat, selain itu karena warga tidak merasa dipasrahi maka mereka juga tidak ikut merawat tanaman tersebut," katanya.
Ia mengatakan, pada musim kemarau panjang ini tidak sedikit tanaman penghijauan yang mati atau tidak tumbuh dengan baik, karena sejumlah kawasan terjadi kekeringan.
"Tanaman yang ada di area yang jauh dari warga banyak yang mati akibat tidak pernah disiram pada kemarau ini," katanya.
Salah satu warga Dusun Kopeng, Desa Kepuharjo Ngatijo mengatakan, saat ini banyak tanaman di lahan terdampak erupsi Merapi yang mulai layu dan mengering.
"Tidak ada yang merawat tanaman-tanaman tersebut, jadi dibiarkan begitu saja, hidup ataupun mati dengan sendirinya," katanya.
Menurut dia, hanya pohon-pohon yang sudah berumur saja yang masih bertahan hidup terutama yang sudah berusia di atas satu tahun, sedangkan pohon yang masih kecil, hampir dipastikan mati.
"Pohon tersebut seharusnya sudah tumbuh besar, karena ditanam enam bulan lalu dalam program penghijauan, tapi karena kekeringan, jadinya tak tumbuh sempurna," katanya.
Ia mengatakan, selama ini memang tidak ada yang secara khusus merawat pepohonan tersebut.
"Warga sibuk untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga tak ada upaya khusus untuk memelihara ribuan batang pohon tersebut. Buat minum aja susah, bagaimana bisa menyirami tanaman yang jumlahnya sangat banyak itu," katanya.
(V001)
Pewarta :
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
