Logo Header Antaranews Jogja

Petani Bantul terpaksa tunda tanam padi

Minggu, 28 Oktober 2012 14:44 WIB
Image Print
Tanam padi (Foto Antara/Noveradika)

Bantul (ANTARA Jogja) - Sebagian petani di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terpaksa menunda jadwal menanam padi karena musim hujan di daerah ini belum terjadi.

"Seharusnya jadwal tanam padi mulai Oktober-November, namun tahun ini mundur karena air untuk irigasi masih sulit akibat belum turun hujan," kata Pelindung Kelompok Tani di Desa Srigading, Kecamatan Sanden "Sri Rejeki" Sugito, Minggu.

Menurut dia, lahan pertanian di kelompoknya yang terdapat di bulak Srigading ada seluas 22 hektare yang sebagian besar ditanami selama empat kali dalam setahun yakni bawang merah dua kali, cabai sekali dan padi sekali.

Ia mengatakan, tanaman padi harus ditanam saat musim hujan karena butuh pengairan cukup, namun kalau musim kemarau seperti saat ini kelompok cenderung tanam bawang merah dan cabai, karena pengairan cukup memanfaatkan pompa air.

"Kalau tanaman bawang dan cabai bisa pakai pompa, namun kalau padi sulit karena butuh air melimpah, di daerah sini memang sulit air saat kemarau, karena saluran irigasi Kamijoro debit airnya sedikit," katanya.

Ia mengatakan, akibat mundurnya jadwal tanam padi di bulak Srigading ini, dirinya harus membiarkan lahan menganggur selama beberapa minggu setelah pascapanen bawang merah beberapa minggu lalu, termasuk lahan garapan miliknya seluas 8.000 meter.

"Kemungkinan di lahan pertanian tadah hujan yang lain juga demikian, " katanya yang menyebutkan ada seluas 360 hektare lahan pertanian di Desa Srigading ini.

Menurut dia, memasuki musim hujan nanti dirinya akan tanam padi jenis hibrida dengan produksi mencapai 12 sampai 15 ton per hektare, dan hampir tiap tahun kelompok yang beranggotakan 65 orang ini lebih cenderung menanam padi kualitas menengah ini.

Ia mengatakan, padi hibrida merupakan jenis padi dengan produktivitas tinggi, namun tidak dianjurkan dari dinas pertanian setempat karena rentan terhadap serangan wereng, namun kelompok mempunyai cara sendiri dalam mengendalikan serangan hama.

"Kita terapkan sistem tanam benih langsung tidak melalui penyemaian, karena cara ini bisa menguatkan batang dibanding harus disemai lebih dulu. Logikanya hama akan memilih makanan yang lembek ketimbang keras," katanya.

(KR-HRI)



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026