
Populasi sapi di Kulon Progo menurun

Jogja (ANTARA Jogja) - Populasi ternak sapi di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 2012 sebanyak 56.491 ekor, menurun 16.319 ekor dibanding 2011 yang mencapai 72.810 ekor.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Dinas Kepenak) Kulon Progo Nur Syamsu Hidayat, Jumat, mengatakan penurunan populasi sapi disebabkan rendahnya harga sapi di pasaran, sementara harga pakan ternak sangat mahal.
Akibatnya, kata dia, peternak terpaksa menjual ternak mereka. "Populasi ternak sapi hingga Juni 2012 baru mencapai 52.090 ekor, kemudian hingga Desember naik lagi 4.401 ekor," katanya.
Meski mengalami kenaikan, menurut dia, populasi ternak sapi jauh dari harapan. "Hal ini disebabkan oleh rendahnya harga sapi di pasaran, sehingga peternak enggan memelihara sapi," kata Nur Syamsu.
Menurut dia, populasi ternak sapi pada 2012 adalah yang terburuk dalam tiga tahun terakhir. Sebab, sejak 2010 hingga 2011 populasi ternak sapi terus mengalami kenaikan signifikan.
Pada 2010, kata dia, populasi sapi mencapai 61.112 ekor, kemudian pada 2011 naik menjadi 72.810 ekor, atau meningkat 19,14 persen.
"Pada 2013 kami harus bekerja lebih giat lagi untuk meningkatkan populasi ternak sapi. Kami menargetkan pertumbuhan populasi ternak sapi mencapai 20 persen. Kami optimistis target tersebut dapat terealisasi," katanya.
Dia mengatakan populasi ternak paling tinggi di Kulon Progo masih didominasi lima kecamatan yaitu Sentolo, Pengasih, Lendah, dan Panjatan.
Tingginya populasi di empat kecamatan ini didukung melimpahnya ketersediaan pakan ternak sepanjang tahun, seperti jerami hingga rumput gajah.
Populasi ternak sapi pada 2011 di Kecamatan Sentolo mencapai 10.915 ekor, Kecampatan Pengasih sebanyak 8.547 ekor, Kecamatan Panjatan sebanyak 8.429 ekor, dan Kecamatan Lendah sebanyak 8.909 ekor.
"Berdasarkan survei ternak 2012, populasi di empat kecamatan tersebut menurun sekitar lima hingga delapan persen. Ini cukup mengkhawatirkan jika harga sapi di tingkat peternak terus menurun," kata dia.
Hal yang mengkhawatirkan masyarakat Kulon Progo, kata Syamsul adalah konsumsi daging sapi dipenuhi kabupaten lain.
Secara umum, menuut dia, ketersediaan sapi di Kulon Progo dapat dikatakan swasembada, namun daya beli masyarakat masih rendah.
"Dinas Kepenak Kulon Progo telah membangun rumah potong hewan, tetapi hingga kini tidak berkembang maksimal, karena daya beli masyarakat rendah, dan pedagang mengambil daging dari Kabupaten Bantul atau Sleman," katanya.
(KR-STR)
Pewarta :
Editor:
Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
