Logo Header Antaranews Jogja

Mendikbud jamin tidak ada kebocoran soal UN

Senin, 15 April 2013 15:42 WIB
Image Print
Mendikbud Muh Nuh (( antaranews.com))

Jakarta (Antara Jogja) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menegaskan bahwa tidak terjadi "kebocoran" soal Ujian Nasional (UN) walaupun pelaksanaan di beberapa provinsi mengalami penundaan akibat keterlambatan distribusi naskah soal.

"Saya harap publik dan siswa tidak terpancing dengan isu-isu kebocoran soal UN. Hal seperti itu tidak usah dipercaya karena setiap tahap pembuatan soal sangat ketat kerahasiaannya. Tidak ada bocoran soal, yang ada hanyalah spekulasi bocoran kunci jawaban," kata Nuh pada saat melakukan inspeksi pelaksanaan UN di SMA Negeri 3 di Jakarta, Senin.

Menurut dia, kemungkinan terjadinya "kebocoran" soal UN sangat kecil karena walaupun seseorang memang mendapatkan satu soal UN, hal itu akan percuma karena soal untuk ujian nasional dibuat dalam beberapa jenis naskah yang berbeda-beda sehingga kunci jawaban untuk soal-soal itu pun berbeda.

"Tidak hanya itu, seseorang akan sulit untuk mengetahui kunci jawaban yang satu untuk soal yang mana sebab kami memakai kode yang berupa "bar code" untuk mencocokkan antara soal dengan kunci jawabannya. Selain itu, setiap provinsi, bahkan setiap ruang ujian di sekolah, akan mendapatkan soal yang berbeda sehingga kemungkinan untuk kebocoran soal sangat kecil," katanya.


Maluku
Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu menjamin kelancaran distribusi soal ujian nasional (UN) tingkat SMA/MA, SMK dan Program Paket Kesetaraan (PPK) atau Paket C yang berlangsung pada 15-18 April 2013.

"Saya memberikan apresiasi kepada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Maluku yang mendistribusikan soal UN ke sembilan Kabupaten dan dua Kota sehingga tidak ada keberatan belum menerima," kata Gubernur disela - sela membuka sampul UN di SMA Negeri 5 Ambon.

Bahkan, sekolah di pulau Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) yang secara geografis berbatasan dengan Timor Leste, sedangkan di Kabupaten Kepulauan Aru dekat Australia, soal UN sudah didistribusikan.

Sementara itu, Bupati Biak Numfor, Papua, Yusuf Melianus Maryen berharap persentase angka kelulusan Ujian Nasional (UN) tahu ajaran 2012/2013 untuk tingkat SD, SMP, SMA dan SMK dapat dipertahankan seperti tahun sebelumnya, bahkan meningkat menjadi 100 persen.

"Pemkab Biak Numfor selalu berharap nilai kelulusan dan jumlah siswa peserta UN meningkat, ya untuk tahun ini meski ada sedikit perbedaan dalam penyelenggaraan Ujian Nasional tetapi saya optimistis angka keberhasilan siswa bisa mencapai 100 persen," ujar Bupati Yusuf Melianus Maryen seusai membuka pelaksanaan UN di komplek SMA Yayasan Pendidikan Kristen 1 Distrik Samofa.


Kesalahan soal dan naskah fotocopy
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN)-1 Kabupaten Garut, Jawa Barat, mendapatkan soal dan lembar jawaban Ujian Nasional (UN) 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia hasil fotocopy tanpa disegel.

"Ada 40 naskah lembar jawabannya fotocopy semua, warnanya beda dan tidak disegel, cuma dilem saja," kata Kepala SMKN 1 Garut, Dadang Djojar Arifin disela-sela pelaksanaan hari pertama UN, Senin.

Ia menjelaskan, sekolahnya menerima 27 amplop berisi soal dan lembar jawaban berwarna dengan keadaan amplop disegel.Namun dua amplop lainnya, kata Dadang berisi naskah dan lembar jawaban hasil foto copy-an atau tidak berwarna, serta tanpa segel seperti amplop lainnya.

"Sebanyak 25 amplop semua disegel dan berisi naskah dan lembar jawaban berwarna, tapi yang dua amplop isinya 40 naskah foto copy dan tidak disegel," katanya seraya menambahkan paket naskah foto copy yang diperoleh dari rayon distribusi naskah UN di SMKN 3 Garut itu dikhawatirkan mempengaruhi sistem penilaian secara komputerisasi nanti.

Sementara itu, Panitia pelaksana Ujian Nasional (UN) di SMA Negeri 4 Batam terpaksa menggandakan naskah soal dengan cara fotokopy karena kekurangan lembar soal.

"Soal boleh digandakan di sekolah kalau lembar soal kurang," kata Ketua Pelaksana Ujian Nasional Kota Batam Andi Agung di Batam.

Andi enggan mengomentari alasan kekurangan soal di SMA 4. Namun, ujarnya sesuai dengan standar prosedur operasional penggandaan soal boleh dilakukan jika soal kurang dan penggandaan harus dilakukan di sekolah.

Dari Kabupaten limapuluh Kota, Sumatera Barat dilaporkan sembilan siswa kelas XII di SMAN 1 Kecamatan Payakumbuh menggunakan soal ujian nasional yang di foto copy karena kekurangan lembaran soal di sekolah tersebut.

Kepala SMAN 1 Mulyadi mengatakan soal yang kurang di sekolah itu berjumlah sembilan lembar dan sesuai arahan dari Dinas Pendidikan, kekurangan soal itu diantisipasi dengan jalan menfoto copy.

"Kekurangan soal itu tidak menghambat jalannya UN di SMAN 1 Kecamatan Payakumbuh dan UN hari pertama berjalan lancar," kata dia.


Diundur
Sejumlah siswa di beberapa sekolah di Banten tidak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN) hari pertama karena kesalahan soal.

"Laporan sementara yang kami terima ada empat sekolah yakni satu sekolah di Kota Cilegon dan tiga sekolah di Kota Serang," kata Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Hudaya Latuconsina di Serang.

Ia mengatakan, empat sekolah tersebut tidak bisa mengikuti UN karena adanya kesalahan soal Bahasa Indonesia. Kesalahan soal tersebut, seperti paket soal yang seharusnya untuk kelas tiga jurusan IPA, namun yang diterima soal UN Bahasa Indonesia untuk jurusan IPS.

"Secara umum kesalahannya karena tertukarnya soal dari pihak percetakan. Kami baru menerima laporan dari empat sekolah," kata Hudaya usai mendampingi Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah memantau pelaksanaan UN di SMKN 1 dan MAN 2 Kota Serang.

Menurut Hudaya, bagi siswa di sekolah yang belum bisa melaksanakan UN tersebut nantinya akan mengikuti UN susulan yang direncanakan pada 22 April 2014.

Sedikitnya 23 kabupaten-kota di Provinsi Sumatera Utara mengalami kendala dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) hari pertama yang mengujikan mata pelajaran Bahasa Indonesia, akibat belum mendapat distribusi naskah soal ujian maupun adanya daerah yang kekurangan naskah soal.

Daerah yang mengalami kendala tersebut yakni Kota Binjai, Tebing Tinggi, Pematang Siantar,,Tanjung Balai, Sibolga, Medan, Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Dairi, Asahan, Labuhan Batu Utara, Tapanuli Utara, Madina, Humbahas, Tobasa, Samosir, Serdang Bedagai, Padang Lawas, Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara, dan Nias Selatan.

"Pada umumnya naskah soal yang belum sampai adalah mata ujian Bahasa Indonesia untuk jurusan IPS. Namun bagi yang kekurangan, dapat memperbanyak dengan melakukan fotokopi yang tentunya tetap dibawah pengawasan pihak pengamanan," katanya.

Perusahaan pencetak naskah soal ujian jelas tidak profesional, sehingga terjadi keterlambatan distribusi naskah ke daerah-daerah. Pemerintah tentunya harus mengevaluasi perusahaan pencetak naskah soal itu, kata Rektor Universitas Negeri Medan (Unimed) Prof Ibnu Hajar di Medan.

Sementara itu, Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMK-SMA untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur akan diundur hingga Kamis (18/4) karena naskah ujian belum tiba seluruhnya di provinsi kepulauan itu.

"Pergeseran jadwal ujian ini karena naskah ujian nasional untuk 21 kabupaten-kota di NTT hingga 15 April ini belum seluruhnya tiba di daerah masing-masing, kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Timur Klemens Meba di Kupang.

Klemens Meba bahkan menyatakan kekecewaannya terhadap perusahaan yang mengadakan bahan ujian karena proses pengiriman naskah melalui pesawat Hercules tidak sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Abdul Muhyi Abidin mengatakan, keterlambatan pencetakan soal Ujian Nasional (UN) SMA/SMK/MA/SMALB yang berakibat penundaan jadwal pelaksanaan ujian, harus disertai sanksi tegas.

"Kami akan bawa masalah ini dalam rapat paripurna DPD untuk membahas sanksi yang pantas buat pihak percetakan yang tidak profesional itu, karena ulahnya para peserta ujian yang kena dampaknya," kata Muhyi di Mataram, Senin.

z003



Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026