Logo Header Antaranews Jogja

Gunung Kidul dorong pembudiya lele kembangkan pakan

Selasa, 18 Juni 2013 17:55 WIB
Image Print
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunung Kidul, terus mendorong pembudidaya produksi pakan mandiri untuk mengurangi biaya produksi. (Foto ANTARA/Mamiek)

Gunung Kidul (Antara Jogja) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendorong pembudidaya ikan lele mampu memproduksi pakan mandiri dari tumbuhan dan bahan yang ada untuk mengurangi biaya produksi.

Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunung Kidul Suwarno di Gunung Kidul, Selasa, mengatakan banyak pembudidaya lele di Gunung Kidul yang merugi akibat mahalnya harga pelet, dan harga ikan lele cenderung fluktuatif.

"Kami berharap, pembudidaya harus mampu produksi pakan secara mandiri. Hal ini untuk menurunkan ongkos produksi selama pembesaran. Selama ini, banyaknya peternak lele yang merugi karena tingginya harga pakan," kata Suwarno.

Ia mengatakan dalam memproduksi pakan peternak bisa memanfaatkan komoditas yang ada disekitar. Sebab, peluang bisnis ikan di Kabupaten Gunung Kidul sangat tinggi, namun belum didukung ketersediaan pakan ternak yang memadai.

Dia mengatakan jumlah kolam ikan di wilayahnya lebih dari 1000 kolam, dengan perkiraan kebutuhan pakan ternak sekitar 30 ton per bulan. Namun di wilayahnya pebisnis pakan ternak belum mampu memenuhi semua kebutuhan tersebut.

"Selama ini, kami mendatangkan pakan ternak dari luar daerah dengan harga di pasaran Rp 9.000 per kilogramnya," kata dia.

Penanggungjawab Klinik Iptek "Mina Bisnis", Budi Wardono mengatakan di Kabupaten Gunung Kidul ada dua wilayah yang mengembangkan usaha pakan ternak yakni di Ponjong dan Nglipar. Dengan adanyaa klinik iptek ini, mampu menjawab kekurangan kebutuhan pakan ternak. "Dengan begitu, perekonomian masyarakat akan berkembang dengan sendirinya," kata dia.

Sementara Pembina Kelompok "Mina Mulia", Adhita Sri Prabakusuma mengatakan kelompoknya berdiri pada awal tahun ini. Sekarang jumlah anggotanya ada 17 orang, memiliki sekitar 26 kolam ikan dan lokasi produksi pakan ternak.

"Harga pakan ternak kami jauh lebih murah dibanding harga di pasaran. Selain itu, pakan yang tersedia kulaitasnya standar SNI," katanya.

Pria lulusan Fakultas Pertanian ini mengaku setiap hari mampu memproduksi pakan sebanyak 1 ton, dan lebih murah dari harga pasaran. "Biaya produksi kami hanya lima ribu sampai enam ribu rupiah, jauh dari harga pakan lele pabrik yang harganya mencapai sembilan ribu rupiah," katanya.

Untuk meningkatkan usaha peternak lele, kata dia, pembudidaya lele dapat melalukan beberapa cara yakni produksi pakan mandiri, produksi benih kualitas tinggi, aplikasi probiotik terkait penyegaran kolam, penguasaan manajemen budidaya dan harus ada intervensi pemerintah terkait harga jual lele.

"Harus ada sinergi antar pemangku kepentingan untuk membantu pembudidaya . Jika tidak ada sinergi, perkembangan produksi lele di Gunung Kidul akan mengalami kesulitan," kata dia.

(KR-STR)



Pewarta :
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026