
BKKBN: tingkat 'drop out' KB tinggi

Jakarta (Antara Jogja) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan bahwa tingkat berhentinya atau drop out peserta KB dalam menggunakan alat kontrasepsi masih cukup tinggi.
"Tingkat putus pakai peserta KB di indonesia masih cukup tinggi. Secara umum sekitar 27 persen pemakai kontrasepsi berhenti memakai alat kontrasepsinya setelah satu tahun pakai," kata Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN Sudibyo Alimoeso di Jakarta, Jumat.
Sudibyo menjelaskan, tingkat putus pakai tertinggi adalah pil 41 persen, kondom 31 persen dan suntik 25 persen.
Inilah yang melatarbelakangi tema untuk Hari Kontrasepsi Dunia 2013 di indonesia adalah mengarahkan pemakaian kontrasepsi jangka panjang diantaranya IUD, Implant, vasektomi dan tubektomi sebagai metode alternatif menyongsong era SIstem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) tahun 2014.
"Untuk menyukseskan metode kontrasepsi jangka panjang masih banyak' pekerjaan rumah' yang harus dilakukan," katanya.
Dia menyebutkan, banyak hal yang harus dibenahi jika melihat potret pemakai kontrasepsi di Indonesia.
"Pertama, pola pembinaan pascapelayanan. Secara teoritis, setiap alat/obat kontrasepsi hampir 100 persen bisa dikatakan efektif. Namun perilaku pemakai dan terkadang pemberi pelayanan menyebabkan alat/obat kontrasepsi tersebut menjadi kurang efektif," katanya.
Kedua, sebanyak 40 persen pemakai menyatakan tidak berniat lagi memakai kontrasepsi karena alasan fertilitas, yaitu berhubungan dengan menopause, abstinen, merasa tidak subur dan pasangan menginginkan punya anak lagi.
Ketiga, masih cukup banyak pasangan usia subur yang tidak berKB karena berhubungan dengan alat kontrasepsi.
"Sekitar 23 persen mereka menyatakan karena alasan kesehatan, efek samping, kurang akses dan biaya mahal. Kampanye yang intensif khususnya interpersonal nampaknya sangat diperlukan dilaksanakaan secara komprehensif," katanya.
(W004)
Pewarta : Oleh: Wuryanti Puspitasari
Editor:
Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026
