
Sembilan perupa pameran di Sanur

Denpasar (Antara Jogja) - Sembilan perupa Bali akan melakukan pameran di Guet Art Space Sanur, Kota Denpasar selama sebulan hingga 5 Desember 2013.
Kesembilan perupa itu adalah Made Budhiana, Wayan Redika, I Made Wiradana, Mahendra Mangku, I Ketut Tenang, I Made Oka, Made Romi Sukadana, V. Dedy Reru, dan I Wayan Wirawan.
Pemilik Guet Art Space, Kadek Dwi Armika di Denpasar, Senin, mengatakan suasana paguyuban yang selama ini tercermin dari sembilan perupa tersebut akan menjadi pedoman sikap yang memberi pengaruh kebebasan dalam berkarya.
Karena itu, kata Armika, berharap pameran tersebut menjadi refleksi tentang hiburan yang sanggup menggayut ke dalam rasa.
"Meskipun kecil, saya berharap pameran ini dapat memberikan nilai yang tidak kecil," kata Armika yang juga arsitek muda ini.
Ia mengatakan pameran ini diselenggarakan sebagai bagian program "Bali Act 2013", yang bertujuan untuk membuat sistem publikasi yang terintegrasi, selama kurun waktu tertentu secara simultan. Sehingga nantinya dapat menjadi rujukan dan pusat informasi bagi publik yang berkeinginan mendapatkan informasi tentang seni rupa di Bali.
Wayan Redika, seorang perupa yang tergabung dalam pameran "Art@inment", mengatakan, sejatinya berawal dalam sebuah wacana dan diskusi ringan dari seniman ke seniman yang lain.
Ia berpendapat bahwa gerak penciptaan dalam seni rupa telah mengarah pada "visual pleasure", di mana hasil karya itu berada dalam posisi nyaman dilihat, ringan, dan indah secara estetis. Karya seni kini telah jauh dari kesan sebagai visual pressure yang menyimpan muatan ideologis.
Menurut seniman asal Kabupaten Karangasem, bahwa hasil karya seni ini terjadi karena meningkatnya daya tekan para kapitalisme yang berhasil membangun pasar maya, dan melakukan pengaruh kreatif kepada para seniman.
"Dari sisi ekonomi, mungkin gejala ini baik, tapi sisi peneguhan sikap dan konsep kekaryaan itu jauh lebih penting," kata Redika.
Ia mengatakan gagasan yang ada dalam "Art@inment" adalah sebuah konstruksi tentang kesadaran dalam memuliakan "rasa" dalam berproses. Rasa itu kemudian yang menjadi bagian dari jiwa yang menggenangi setiap karya.
Dalam arti yang sederhana, kata dia, setiap karya bukanlah representasi dari "rasa" di luar jiwa senimannya. Alhasil, peristiwa berproses akan dedikasikan sebagai "entertaint" atau hiburan personal bagi sang pelukis.
"Kesepahaman gagasan dalam menyikapi kondisi yang ada, telah menggugah 'Guet Art Space' untuk memamerkan karya yang dikreasi sejalan dengan tema yang sering menjadi bahan diskusi," katanya.
(I020)
Pewarta : Oleh I Komang Suparta
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
