
KY : DPR perlu panel ahli seleksi CHA

Jogja (Antara Jogja)-Komisioner Komisi Yudisial Imam Anshori Saleh menyarankan DPR RI kedepan perlu membuat semacam panel ahli untuk turut berperan serta menyeleksi calon hakim agung yang ideal.
"Kalau saya menyarankan mungkin DPR RI perlu juga membentuk semacam panel ahli, karena kami juga tidak mengerti selera mereka (DPR),"kata Imam Anshori Saleh seusai mengisi sebuah diskusi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Rabu.
Hal itu dikatakan, menyusul penolakan komisi III DPR RI atas usulan tiga nama calon hakim agung (CHA) hasil seleksi yang dilakukan Komisi Yudisial (KY). Ketiga nama itu yakni hakim Suhardjono, hakim Maria Anna Samyati dan hakim Sunarto.
KY, menurut dia, kecewa atas penolakan komisi hukum DPR tersebut, karena ketiga nama CHA telah diseleksi melalui mekanisme yang ketat dengan melibatkan berbagai pakar yang berkompeten.
"Kami telah melakukan seleksi secara ketat selama lima bulan melibatkan pihak luar seperti ahli hukum, psikolog serta LSM untuk "men-track" mereka dari sisi integritas dan kemampuan. Sehingga dari 40 orang terseleksi tiga orang,"katanya.
Menurut Imam, penolakan DPR dengan alasan meragukan integritas ketiga calon hakim agung tersebut perlu dipertanyakan dan harus memiliki landasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Ketika mereka meragukan integritas maka kami tanyakan poin integritas yang mana? nyatanya ketika kami tanyakan itu mereka (DPR) tidak dapat menjawab,"katanya.
Sementara itu, menurut Imam, calon hakim agung sesungguhnya tidak perlu tangkas beretorika layaknya politisi, namun cukup memiliki kehalian hukum, tegas dan bijaksana dalam memutuskan kasus hukum.
"Saya menduga jangan-jangan selera kita (KY-DPR) berbeda, mereka menginginkan (calon hakim agung) yang tangkas berbicara. Pdahal, sesungguhnya hakim itu sendiri dilarang banyak berkomentar dalam kasusnya, yang penting punya integritas bagus, punya wawasan hukum yang matang, dan bisa memutus dengan bijak,"kata dia.
(KR-LQH)
Pewarta : Oleh Luqman Hakim
Editor:
Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026
