
Pemanfaatan potensi kelautan belum maksimal

Bandung (Antara Jogja) - Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutarjo mengatakan hingga saat ini potensi sumber daya kelautan dan perikanan belum dimanfaatkan secara maksimal.
"Potensi kelautan Indonesia mencapai Rp3.000 triliun setiap tahunnya. Jika kita dapat memanfaatkan potensi tersebut secara maksimal, maka Indonesia akan tumbuh menjadi negara maritim yang maju, kuat dan mandiri," ujar dia saat memperingati Hari Kelautan Sedunia di Bandung, Rabu.
Menurut dia, jika saja Indonesia bisa mengelola sumber daya kelautannya dengan baik, maka dapat menghasilkan nilai ekonomi yang mencapai dua kali lipat Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
"Pada 2012, ekonomi Indonesia menempati peringkat 16 di dunia. Pemerintah menargetkan ekonomi meningkat dan menempati peringkat tujuh negara pada 2030."
Oleh sebab itu, maka pemerintah bersama masyarakat harus menjaga laut demi kesejahteraan masyarakat.
Meski demikian, proporsi bidang kelautan dalam PDB nasional baru mencapai 22,42 persen. Nilai tersebut terdiri dari tujuh sektor antara lain perikanan, industri maritim, transportasi laut, pariwisata bahari, energi dan sumber daya mineral, jasa-jasa kelautan, dan bangunan kelautan.
Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan teknologi sangat diperlukan dalam rangka memanfaatkan potensi kelautan.
"Di hulu, penggunaan teknologi tepat guna dapat digunakan dalam memaksimalkan kegiatan pendukung eksplorasi sumber daya alam kelautan dan perikanan," ujar Menristek.
Teknologi yang bisa digunakan yakni teknologi produksi benih unggul, teknologi alat tangkap, teknologi kotak pendingin, teknologi penunjang energi, dan instalasi pengolahan air.
Begitu juga pada bagian proses, teknologi tepat guna digunakan untuk pemisahan daging dan tulang ikan, pengasapan ikan.
Pada pengemasan pun, bisa menggunakan mesin pengemas atau 'vacuum frying'."
Menristek mengharapkan melalui teknologi tepat guna, sumber daya kelautan dan perikanan dapat dioptimalkan.
(I025)
Pewarta : Oleh Indriani
Editor:
Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026
