Logo Header Antaranews Jogja

Warga KRB Merapi terpaksa jual murah sapinya

Selasa, 24 Juni 2014 19:33 WIB
Image Print
Lereng Gunung Merapi (Foto rioananda.wordpress.com) (

Sleman (Antara Jogja) - Warga di Kawasan Rawan Bencana III Gunung Merapi di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, diketahui banyak yang terpaksa menjual murah ternak sapinya saat status aktivitas naik menjadi waspada pada April 2014.

Camat Cangkringan Sleman, Bambang Nurwiyono, Selasa, mengatakan memang ada beberapa warga di KRB III Merapi yang menjual sapi dengan harga sangat murah saat Merapi naik status aktivitasnya.

"Di Desa Glagaharjo, sebelumnya harga sapi besar bisa mencapai Rp15 juta, namun saat status aktivitas Merapi naik, hanya laku sekitar Rp11 juta," katanya.

Menurut dia, untuk jumlahnya memang tidak bisa dihitung pasti, tapi ada beberapa warga yang memang menjual ternaknya dengan harga murah karena panik dan bingung.

"Tindakan menjual sapi tersebut bukan karena warganya trauma. Melainkan mereka dalam menghadapi kesiapsiagaan bencana saja," katanya.

Ia mengatakan, pihaknya terus melakukan imbauan kepada warga lereng Merapi.

"Intinya, sosialisasi bahwa status waspada Merapi tidak apa-apa. Warga tidak perlu menjual sapi tidak apa-apa. Nanti kalau mengungsi juga disiapkan tempat untuk ternak mereka," katanya.

Relawan dari Saluran Komunikasi Sosial Bersama (SKSB) Sriyanto mengatakan, saat Gunung Merapi naik status satu tingkat di atas normal, warga langsung menanggapinya berlebihan, khususnya di KRB III.

"Itu terjadi pada akhir April lalu, saat Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menaikkan ke status waspada. Beberapa warga di KRB terbujuk makelar untuk menjual harga hewan ternaknya, khususnya sapi dengan harga murah," katanya.

Menurut dia, tindakan warga lereng Merapi itu hanya membuat rugi para peternak.

"Mereka bingung yang mempunyai hewan ternak. Kalau mau mengungsi, ternaknya nanti dikemanakan, apalagi banyak. Meski memang sudah diberitahu kalau di tempat pengungsian nanti juga ada tempat untuk hewan ternak," katanya.

Ia mengatakan, untuk mengantisipasi kejadian terulang, harus ada pendekatan secara intensif dari pemerintah setempat kepada beberapa warga di KRB III.

"Selain itu juga dengan mengintensifkan komunikasi dengan beberapa warga yang di titik rawan, minimal nantinya juga bisa ada gagasan baru untuk membuat kandang ternak di KRB II. Jika itu bisa dilakukan, maka mereka yang di KRB III tidak akan terlalu kebingungan untuk menyelamatkan diri ketika terjadi bencana. Lebih baik, ternak warga KRB III itu diberi kandang di wilayah KRB II yang wilayahnya sedikit lebih aman," katanya.

Wilayah KRB III di Kabupaten Sleman ini masih ditinggali sekitar 656 KK. Seperti di Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, dan Srunen, Desa Glagaharjo.

Mereka masih menempati tempat terlarang bagi permukiman tersebut karena menolak direlokasi.
(V001)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026