Logo Header Antaranews Jogja

DPRD minta DKPP inventarisasi kapal nelayan

Jumat, 17 April 2015 19:23 WIB
Image Print
Ilustrasi kapal nelayan di pantai selatan Kulon Progo (Foto mobile.seruu.com)

Kulon Progo, (Antara Jogja) - Komisi II DPRD Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, meminta Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan menginventarisasi kapal milik nelayan, khususnya kapal dengan kapasitas 30 grosston.

Ketua Komisi II DPRD Kulon Progo Muhtarom Asrori di Kulon Progo, Jumat, mengatakan empat kapal 30 grosston yang dihibahkan ke nelayan ternyata tidak meningkatkan kesejahteraan mereka.

"Saat kami melakukan kunjungan kerja ke Pacitan, Jawa Timur, kapal 30 grosston yang dikerjasamakan dengan nelayan di sana, posisinya sudah ada di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Hal ini sangat memprihatinkan," kata Muhtarom.

Ia mengatakan Komisi II DPRD berharap kapal yang masih berada di luar Kulon Progo agar segera ditindaklanjuti.

Selain itu, kata dia, pembinaan dan pelatihan kepada nelayan Kulon Progo ditingkatkan, sehingga apabila Pelabuhan Tanjung Adikarto dioperasionalkan, kapal-kapal tersebut dapat kembali ke Kulon Progo.

"Jangan sampai, Tanjung Adikarto sudah beroperasi, nelayan Kulon Progo hanya sebagai penonton," katanya.

Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan Tangkap Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kulon Progo Prabowo Sugondo mengatakan jumlah perahu motor tempel milik nelayan dari Pantai Trisik sampai Jangkaran sebanyak 104 unit.

Adapun rinciannya meliputi perahu motor tempel milik belayan Trisik 26 unit, Bugel 12 unit, Karangwuni 10 unit, nelayan andonan Karangwuni sembilan unit, Glagah sembilan unit, Congot 13 unit dan Jangkaran sembilan unit.

"Jumlah kapal motor tempel sudah mencukupi. Kapal tidak beroperasi setiap harinya," kata dia.

Selain itu, kata Prabowo, pada 2007, Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Ngudi Rejeki, Karangwuni mendapat hibah kapal akselasarasi 30 grosston. Kemudian di kerja sama operasional (KSO) dengan nelayan Pacitan.

Kemudian, pada 2011, KUBE Bogowonto Jangkaran mendapat hibah Inka Mina 166, kapal di KSO kan dengan nelayan Cilacap. Pada 2012, KUBE Bugel Peni juga mendapat hibah Kapal Inka Mina 530.

Kapal baru di KSO dengan nelayan Sadeng Kabupaten Gunung Kidul. Selama 2012-2014 kapal dipergunakan untuk pelatihan nelayan Kulon Progo di Sadeng.

Selanjutnya, pada 2013, KUBE Arung Samodra Sindutan mendapat bantuan Kapal Inka Mina 467 dengan bobot 40 grosston. Kapal di KSO-kan dengan nelayan Sadeng.

"Pada saat pertama kali melaut dapat menghasilkan 8,4 ton. Untuk melaut yang kedua kali dapat menghasilkan 11 ton," katanya.

Prabowo mengatakan permasalahan yang selama ini dihadapi oleh nelayan Kulon Progo adalah SDM nelayan merupakan nelayan transisi yang dulunya petani sekarang menjadi nelayan, sehingga belum terbiasa melaut dengan demikian harus mengubah kebiasaan yang dulunya bertani jadi melaut, lebih-lebih kapal dengan bobot di atas 30 grosston.

"Nelayan Kulon Progo lebih memilih mengoperasikan perahu motor tempel berangkat pagi, pulang siang, dibandingkan kapal 30 grosston yang melaut 5-8 hari," katanya.***1***

(KR-STR)



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026