Jogja (Antara Jogja) - Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta meminta pemerintah daerah memberikan pendampingan kepada pelaku usaha mikro kecil menengah untuk meningkatkan kemampuan ekspor.
Wakil Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) DIY Wawan Harmawan di Yogyakarta, Senin, mengatakan hingga saat ini belum banyak pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang betul-betul mengetahui mekanisme ekspor secara menyeluruh.
"Perlu dilakukan pendampingan penguasaan ekspor hingga level pelaku usaha mikro, untuk meningkatkan target ekspor ," kata Wawan.
Menurut dia, wawasan mengenai ekspor tidak cukup diberikan melalui materi sosialisasi, namun perlu ditindaklajuti dengan pembinaan secara langsung hingga para pelaku UMKM mampu melakukan ekspor secara mandiri.
Dia mengatakan, pendampingan dan pembinaan itu antara lain meliputi peningkatan teknik ekspor, hingga penguasaan mengenai kualitas produk ekspor yang diminati pasar.
"Dengan pengetahuan secara mandiri, maka tingkat ekspor UMKM dapat meningkat signifikan," kata dia.
Sementara itu, ia mengatakan, hingga saat ini jumlah pelaku UMKM yang telah bergelut di pasar ekspor masih minim. Saat ini jumlahnya masih kurang dari 20 persen dari 200 jumlah UMKM yang terdaftar di Asephi.
Kendati demikian, dia meyakini dengan penguasaan wawasan mekanisme ekspor tersebut sebagian besar produk UMKM di DIY bernilai ekspor tinggi.
Adapun produk andalan pelaku UMKM DIY yang banyak diminati negara-negara tujuan ekspor antara lain mebel, batik, kerajinan tembaga, serta berbagai kerajinan berbahan baku alam.
(L007)
