Sleman, (Antara Jogja) - Tebing sejumlah sungai di lereng Gunung Merapi saat pada musim hujan nanti masih rawan longsor karena belum sepenuhnya pulih pascareupsi 2010, kata Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan, Taman Nasional Gunung Merapi Dhany Suryawan,
"Meski saat ini di lahan-lahan kritis sudah banyak tertutupi tanaman dan tumbuhan, namun potensi terjadinya tanah longsor masih sangat tinggi. Terutama di areal yang kemiringan lahannya di atas 60 derajat," kata Dhany, Kamis.
Ia mengatakan, ketika musim hujan nanti diimbau agar tidak ada yang boleh berada di dekat tebing sungai. Dengan kesiapsiagaan para pihak terkait dalam antisipasi ancaman ini, diharapkan tidak lagi ada korban jiwa.
"Sistem deteksi dini atau `Early Warning System (EWS) yang dibangun BNPB sudah lumayan terbangun dengan baik," katanya.
Menurut dia, selain itu penambang pasir akan menjadi orang yang paling riskan menjadi korban, jika terjadi banjir di sungai yang berhulu Merapi pada musim hujan.
"Ancamannya tidak hanya dari aliran material saja, namun tebing-tebingnya banyak yang curam dan rawan longsor," katanya.
Dhany mengatakan, potensi banjir lahar dingin di sungai berhulu Gunung Merapi memang masih cukup besar.
"Kecenderungannya potensi bahayanya semakin menurun. Karena seiring dengan berkurangnya sisa material vulkanis erupsi 2010," katanya.
Selain itu, kata dia, talud-talud yang dibangun di beberapa titik di Sungai Putih, Sungai Gendol, dan lainnya juga memperkecil ancamannya.
"Sebagian sudah selesai dengan konstruksi yang didesain tahan terhadap banjir lahar dingin," katanya.
Ia mengatakan, jiwa manusia yang paling terancam jika terjadinya banjir material tersebut adalah para penambang pasir.
"Penambang pasir yang ketika banjir masih berada di sungai, akan terancam jiwanya. Sudah ada korban meninggal, akibat itu selama ini," katanya.
Relawan bencana dari Saluran Komunikasi Sosial Bersama (SKSB), Sriyanto, mengatakan meski musim hujan belum datang, namun kesiapsiagaannya sudah dilakukan.
"Survei titik-titik untuk memantau banjir sudah kami lakukan. Karena kan berpindah-pindah, mulai banyak tanaman yang tinggi. Jadi harus tahu titik yang bagus untuk memantau," katanya.
Menurut dia, pemantauan pun akan sama seperti di tahun-tahun sebelumnya. Yaitu dari titik teratas di sungai sampai bawah.
"Meski aliran di atas kecil, tapi sampai bawah biasanya menjadi besar. Yang perlu diperhatikan, daerah yang masih cukup banyak warga beraktivitas di sungai," katanya.***4***
(V001)
