Logo Header Antaranews Jogja

Bantul butuh data populasi sapi siap potong

Sabtu, 20 Februari 2016 08:59 WIB
Image Print
Ilustrasi (foto antaranews.com)

Bantul (Antara Jogja) - Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, membutuhkan data populasi sapi siap potong di daerah ini guna mengetahui suplai kebutuhan bahan pangan masyarakat tersebut ke pasar.
"Masalah pangan tidak hanya terkait dengan daging ayam dan telur, tetapi juga daging. Kami senantiasa meminta data itu, tentunya mereka harus berikan data komulatif, populasi siap potong," kata Kepala Disperindagkop Bantul Sulistyanto di Bantul, Sabtu.
Menurut dia, perlunya data jumlah sapi siap potong dan siap masuk pasar itu untuk mengetahui ketersediaan pasokan bahan pangan tersebut mengingat tidak sedikit sapi-sapi yang tidak siap potong.
Ia mengatakan bahwa pihaknya belum mengetahui berapa jumlah sapi siap potong di Bantul meskipun dari Dinas Pertanian dan Kehutanan setempat menyebut populasi sapi di daerah hingga akhir 2015 mencapai sekitar 51.000 ekor sapi.
"Kami tidak pernah tahu itu dari sekitar 51.000 ekor sapi yang siap potong untuk masuk sebagai bahan pangan. Hal ini yang terpenting karena ada juga yang siap potong, pemiliknya tidak mau menjual binatang itu," katanya.
Ia mengatakan bahwa di Kabupaten Bantul terdapat persatuan jagal yang bertugas memotong hewan, termasuk sapi-sapi yang diambil dari sentra ternak sapi Segoroyoso Pleret.
Menurut dia, para jagal harus memiliki data populasi sapi.
"Karena kan sumber ada pada mereka (jagal), ya, merekalah yang harusnya siapkan data itu sehingga jika ketemu orang Dinas Pertanian bahwa punya 51.000 ekor sapi dan ada sekian yang siap patong dan siap masuk pasar," katanya.
Berkaitan dengan harga daging sapi di pasaran, menurut dia, pergerakannya tergantung pada pasokan. Dalam hal ini juga termasuk pasokan sapinya. Jadi, jika pasokan berkurang, tentu akan berdampak pada penaikan harga.
"Ketika pasokan bahan baku daging itu agak, bahkan berkurang banyak dan tidak sesuai kebutuhan, kemudian permintaan ajek, yang akan terjadi seperti itu, harganya akan naik. Namun, kalau masih wajar, itu tidak perlu dikhawatirkan," katanya.

KR-HRI



Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026