
282 warga Gunung Kidul terserang DBD

Gunung Kidul (Antara Jogja) - Sebanyak 282 warga Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terserang penyakit demam berdarah dengue, meski Dinas Kesehatan setempat sudah menggelakan pengasapan dan sosialisasi pentingnya kebersihan lingkungan.
Kepala Dinas Kesehatan Gunung Kidul Agus Prihastoro di Gunung Kidul, Selasa mengatakan pada Desember 2015 hanya ada 25 kasus, sementara pada Januari 2016 hingga Maret 2016 mencapai 282 kasus.
"Kasus demam berdarah dengue pada 2016 merupakan kasus tertinggi dalam lima tahun terakhir," kata Agus.
Menurut dia, meningkatnya jumlah penderita DBD karena hujan yang tidak menentu sehingga menyebabkan perkembangbiakan nyamuk makin banyak. Untuk itu, seluruh warga diharapkan tetap meningkatkan kewaspadaan guna mencegah penularan DBD.
Pihaknya telah melakukan berbagai upaya pencegahan, seperti menyediakan abate yang dibagikan kepada masyarakat baik melalui Dinkes maupun seluruh puskesmas di setiap kecamatan.
"Berapapun abate yang dibutuhkan masyarakat, kami siap menyediakannya. Kami berharap peran aktif masyarakat untuk ikut pemberaantasan sarang nyamuk," harapnya.
Untuk mencegah penularan pihaknya rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat, bisa jadi pola hidup masyarakat saat ini menjadi lebih baik. Budaya bersih dengan menerapkan pola 3M (menguras, mengubur dan menutup).
Agus juga mengingatkan masa gigitan nyamuk aydes aigepty yang membawa penyakit DBD terjadi pada pagi antara 08.00 sampai 10.00 WIB. Kemudian pada sore antara 14.00 hingga 15.00 WIB.
"Untuk pencegahan dari dalam diri sendiri bisa mengkonsumsi makanan yang bergizi, dan banyak minum," katanya.
Agus mengungkapkan untuk wilayah yag menjadi endemik DBD di ibu kota kabupaten yakni Kecamatan Wonosari. Pennyakit yang disebabkan nyamuk aides aighepty ini menyerang siapa saja dari orang tua hingga balita.
"Di Wonosari, kasusnya sangat banyak dibanding wilayah kecamatan lain, kecamatan seterusnya ialah kecamatan yang berbatasan langsung dengan Wonosari," katanya.
(KR-STR)
Pewarta : Oleh Sutarmi
Editor:
Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026
