Wonokerto kembangkan ekowisata konservasi sumber daya air

id konservasi

Sleman (Antara Jogja) - Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mengembangkan ekowisata dalam rangka mempertahankan kawasan resapan air dan penyelamatan sumber daya air.

"Desa Wonokerto menjadi Desa Konservasi Mandiri dalam penanganan sumber daya airnya," kata pengajar Geometrika Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakaryta Djoko Soeprijadi SHut MCs, saat peringatan Hari Air se Dunia di Desa Wonokerto, Turi, Sleman, Selasa.

Menurut dia, kesimpulan yang didapatkan dari hasil pemetaan air yang dilakukan di Wonokerto menunjukkan bahwa semakin tinggi suatu kawasan maka kecenderungan intensitas air semakin langka.

"Hal ini juga dialami kawasan Desa Wonokerto yang berada di dataran tinggi karena Turi masuk dalam wilayah lereng Gunung Merapi. Daerah dataran tinggi sebagai ?kawasan tangkapan air sedangkan daerah bawah seperti kota Yogyakarta sebagai tandonnya, karena air dari atas mengalir ke daerah yang lebih rendah," katanya.

Ia mengatakan, skema penyelamatan mata air di Desa Wonokerto rencananya akan dilakukan penanaman berbagai jenis bambu di sekitar daerah aliran sungai di Desa Wonokerto sebagai kebun botani atau arboretum.

"Langkah tersebut diambil karena selain sebagai upaya konvservasi juga dapat dimanfaatkan untuk edukasi. Kami memilih bambu karena pertumbuhannya 30 persen lebih cepat dari kayu," katanya.

Djoko mengatakan, berbagai jenis bambu di Indonesia akan didatangkan dan rencananya akan dibuat arboretum dengan pengelompokan dan penamaan masing-masing bambu.

"Harapannya nanti kawasan ini mampu menjadi kawasan ekowisata, khususnya konservasi sumber daya air," katanya.

Wakil Bupati Sri Muslimatun, mengatakan bahwa air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat hidup orang banyak, sehingga perlu dikelola untuk dimanfaatkan secara efisien, adil dan berkelanjutan.

"Secara kuantitas, air hujan yang tersimpan dalam tanah cenderung semakin berkurang dan sebagian besar menjadi aliran permukaan yang akan beresiko terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Kondisi tersebut disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya semakin banyaknya permukaan tanah yang ditutup dan perubahan fungsi daerah tangkapan air," katanya.

Sedangkan secara kualitatif, air yang tersedia juga telah mengalami pencemaran, sehingga semakin menurunkan tingkat ketersediaan air bagi masyarakat.

"Penurunan kualitas air ini diantaranya disebabkan perilaku tidak bertanggung jawab dari masyarakat seperti membuang sampah dan limbah rumah," katanya.
V001

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.