Logo Header Antaranews Jogja

APTI dorong kampus persiapkan sertifikat keahlian mahasiswa

Selasa, 4 Oktober 2016 18:59 WIB
Image Print
Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (istimewa)

Yogyakarta (Antara Jogja) - Asosiasi Profesi Teknik Indonesia mendorong perguruan tinggi untuk mempersiapkan mahasiswanya memiliki sertifikat keahlian yang dibutuhkan agar bisa terserap dunia kerja.

"Lulusan teknik yang diserap menjadi insinyur dalam dunia kerja masih tergolong rendah karena tidak banyak sarjana teknik yang mengantongi sertifikat keahlian dan tidak melanjutkan studinya hingga jenjang profesi," kata Ketua APTI Pusat sekaligus Pendiri APTI Sri Sunarjono pada sosialisasi pembentukan APTI DIY di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa.

Untuk itu, menurut dia, dibutuhkan suatu wadah bagi para lulusan teknik tersebut untuk bisa meningkatkan keahlian agar bisa terserap oleh dunia kerja.

APTI, katanya bisa menjadi salah satu ajang untuk meningkatkan keahlian bagi lulusan teknik sebab salah satu tugas APTI adalah melakukan verifikasi dan validasi bagi yang mau mengajukan keahlian.

Ia mengatakan biasanya saat APTI mengadakan workshop, modul yang disampaikan tidak dimasukkan dalam kurikulum perkuliahan.

Hal itu, kata dia, menjadikan mahasiswa tidak mengantongi keahlian yang diakui sehingga jumlah insinyur di Indonesia masih sangat rendah dan mendorong APTI bersinergi untuk meningkatkan lulusan teknik yang berkualitas maupun berkuantitas.

"Meningkatkan kualitas dan mendorong kuantitas menjadi program kerja APTI. Dalam kuantitas, APTI tergerak untuk meningkatkan jumlah anggota, cabang APTI, perwakilan perguruan tinggi, profesi, sarjana teknik, jumlah insinyur yang teregistrasi maupun jumlah yang layak mendapatkan sertifikasi keahlian. Sementara dalam peningkatan kualitas yaitu dengan cara meningkatkan profesionalisme anggota melalui berbagai pelatihan," jelasnya.

Sunarjono menambahkan, dalam meningkatkan keahlian para sarjana teknik, perlu mengedepankan kode etik yang saat ini sulit untuk diterapkan.

"Kami masih prihatin, walaupun di Indonesia ini pemerintah telah mencanangkan program antikorupsi. Namun aktivitas yang disusupi korupsi masih ada di sekitar kita. Untuk kode etik APTI, dikaitkan pada masalah tauhid. Ini salah satu hal fundamental bagi APTI sebagai pangkal dasar akhlak yang dimiliki oleh anggota APTI," tambahnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UMY serta Ketua APTI DIY, Jazaul Ikhsan mengatakan bahwa APTI menjadi sarana untuk mensinergikan dunia pendidikan dan dunia kerja.

Terlebih, lanjut dia, para lulusan teknik perlu memiliki keahlian dalam memasuki dunia kerja.

Selain itu, tambahnya, APTI juga akan mendorong profesionalitas sumber daya manusia dalam penguasaan, pengembangan sesuai kebutuhan kompetensi tenaga ahli teknik.

"Mudah-mudahan dengan APTI ini sinergi dunia pendidikan dan dunia kerja semakin terjalin, tanpa terlepas dari Persatuan Insinyur Indonesia," harap Jazaul.

(KR-RHN)



Pewarta :
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026