Permukiman sekitar talut rusak Prawirodirjan ditata bertahap

id permukiman, penataan, bantaran sungai

Bangunan Balai RT di Kelurahan Prawirodirjan dirobohkan untuk mengantisipasi meluasnya kerusakan talut Sungai Code yang sebelumnya longsor (Foto Antara/Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Permukiman warga di sekitar lokasi talut Sungai Code di Kelurahan Prawirodirjan yang longsor akan ditata secara bertahap, namun harus diawali dengan kesepakatan dari warga yang terdampak.
   
“Kejadian talut longsor justru bisa menjadi titik awal bagi kami untuk melakukan penataan permukiman. Warga di sekitar lokasi sebenarnya sudah memahami risiko yang mereka hadapi jika tetap tinggal di lokasi tersebut,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono di Yogyakarta, Kamis.
   
Untuk saat ini, lanjut Agus, DPUPKP Kota Yogyakarta akan melakukan penanganan sementara terhadap talut yang longsor untuk kepentingan pengamanan serta erkirim surat ke Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) sebagai instansi yang memiliki kewenangan atas sungai.
   
Sedangkan perencanaan penataan permukiman warga di bantaran sungai direncanakan dimulai pada 2019.
   
Namun demikian, bentuk penataan yang akan dilakukan terhadap permukiman warga tersebut akan ditetapkan berdasarkan kesepakatan warga.
   
“Apakah memundurkan rumah dan menghadapkannya ke arah sungai atau bentuk lain. Nanti disesuaikan dengan kondisi wilayah dan tentunya kesepakatan dari warga. Butuh pendekatan sosial dan pemahaman mengenai risiko bahaya yang mereka hadapi,” katanya.
   
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 28 Tahun 2015 dinyatakan bahwa jarak sempadan sungai untuk sungai di perkotaan adalah tiga meter jika sungai sudah memiliki tanggul atau 10 meter jika sungai belum dilengkapi tanggul.
   
“Karena kondisi permukiman sudah padat, dan sulit dimundurkan, maka perlu alternatif lain. Yang pasti, harus didasarkan kesepakatan warga,” katanya.
   
Agus menambahkan, sudah ada memorandum program untuk penataan bantaran sungai yang dikawal melalui program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku).
   
“Pemerintah pun akan menyiapkan penggantian jika rumah warga terpaksa dikurangi. Tentunya didasarkan aturan yang berlaku,” katanya.
   
Ketua Kampung Tangguh Bencana Prawirodirjan Agus Supriyanto mengatakan, untuk mengantisipasi meluasnya kerusakan talut Sungai Code, warga sepakat untuk merobohkan Balai RT yang sudah rusak akibat talut longsor tersebut.
   
“Bagian bawah balai sudah berongga sehingga dikhawatirkan akan menambah kerusakan dan berdampak ke bangunan di sekitarnya jika tetap dibiarkan,” kata Agus.
   
Selain merobohkan balai RT, pembersihan sungai juga dilakukan menggunakan alat berat yaitu membersihkan material talut yang longsor serta mengeruk bagian tengah sungai agar aliran air tidak cenderung mengarah ke kanan dan kiri sungai.
   
Bagian talut yang berongga juga ditutup dengan karung berisi pasir dan bronjong.
   
Sejumlah warga terdampak kerusakan talut juga masih mengungsi ke rumah saudara.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar