Struktur konstruksi Jembatan Lempuyangan dinyatakan baik

id jembatan lempuyangan

Struktur konstruksi Jembatan Lempuyangan dinyatakan baik

ILustrasi jembatan layang. (Foto ANTARA/Liliana Jauri/ags/17)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Yogyakarta memastikan kondisi struktur dan konstruksi Jembatan Layang Lempuyangan dalam kondisi baik sesuai hasil survei yang dilakukan selama beberapa bulan terakhir.



“Dari hasil survei, dinyatakan bahwa struktur dan konstruksi Jembatan Layang Lempuyangan dalam kondisi bagus. Namun, tetap harus dilakukan pemeliharaan supaya kondisinya terjaga dan tidak mempercepat terjadinya kerusakan,” kata Kepala Bidang Binamarga Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta Umi Akhsanti di Yogyakarta, Jumat.



Menurut Umi, pemeliharaan tidak hanya akan dilakukan dengan pengecatan maupun memperbaiki aspal jembatan tetapi akan dilakukan ke aspek lain yaitu penggantian pipa yang menjadi saluran air hujan atau “floor drain” jembatan.



Jika pipa tersebut mengalami kerusakan dan air hujan tidak dapat mengalir dengan baik tetapi justru merembes, maka dikhawatirkan akan memicu kerusakan besi hingga struktur dan konstruksi jembatan.



“Pada tahun anggaran 2019, kami sudah anggarkan dana untuk memperbaiki saluran air hujan Jembatan Layang Lempuyangan,” katanya.



Selain melakukan perbaikan terhadap kondisi fisik jembatan, Umi menyebut, akan membawa hasil survei konstruksi jembatan tersebut ke Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta sebagai bahan evaluasi terkait kondisi lalu lintas di jembatan.



Jembatan dengan dua lajur lalu lintas tersebut menjadi salah satu ruas jalan yang kerap mengalami kepadatan meskipun hanya di satu sisi lajur saja yaitu, di lajur sisi barat saat pagi hari dan di lajur timur saat sore hari.



Kondisi kendaraan yang berhenti saat terjadi kepadatan lalu lintas di sepanjang jembatan layang, lanjut Umi, juga dapat mempengaruhi konstruksi jembatan sehingga perlu dilakukan pengaturan lalu lintas.



“Jembatan sebenarnya tidak didesain untuk menahan beban yang berhenti. Idealnya, kendaraan harus bisa tetap berjalan saat berada di jembatan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengaturan lalu lintas untuk menjaga kondisi jembatan,” katanya.



Hanya saja, DPUPKP Kota Yogyakarta masih mengalami kesulitan untuk mengetahui data konstruksi jembatan yang dibangun sekitar 1988 atau 1989 oleh pemerintah pusat tersebut. “Saat diserahkan ke Kota Yogyakarta sekitar tahun 2000-an, tidak disertai dengan data konstruksi jembatan. Misalnya beban maksimal jembatan. Data itu yang kami belum miliki,” katanya.



Umi menambahkan, hasil survei tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan kajian dalam menentukan manajemen lalu lintas di kawasan Lempuyangan termasuk jika pada suatu saat dilakukan penutupan perlintasan sebidang Lempuyangan atau perlintasan di bawah jembatan layang.



“Kajian terhadap manajemen lalu lintas di Lempuyangan juga tidak dapat dipisahkan dengan kondisi lalu lintas di Kawasan Malioboro karena saat Malioboro padat, biasanya kendaraan akan dibuang ke Kridosono dan hal tersebut ikut mempengaruhi kondisi lalu lintas di Lempuyangan,” katanya.

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar