Menristek mendukung pengembangan imunomodulator berbasis biodiversitas

id menristek,bambang ps brodjonegoro,imunomodulator,keanekaragaman hayati Indonesia,pandemi COVID-19,vaksin covid,vaksin co

Menristek mendukung pengembangan imunomodulator berbasis biodiversitas

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro berbicara dalam seminar virtual (webinar) Ketahanan dan Kemandirian Kesehatan Indonesia, Jakarta, Kamis (25/03/2021). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mendukung peningkatan pengembangan imunomodulator berbasis keanekaragaman hayati Indonesia yang penting dalam menjaga daya tahan tubuh di tengah pandemi COVID-19.

"Potensi bahan obat herbal tidak hanya obat dalam pengertian fitofarmaka tapi juga untuk imunomodulator karena bagaimanapun dalam kondisi vaksinasi masih jauh dari selesai kita masih butuh imunomodulator untuk meningkatkan daya tahan tubuh kita," kata Menristek Bambang dalam seminar virtual (webinar) Ketahanan dan Kemandirian Kesehatan Indonesia, di akarta, Kamis.

Menristek Bambang juga mendukung pengembangan bahan baku obat dalam negeri berbasis biodiversitas yang melimpah di Tanah Air.



Sampai sekarang, lebih dari 90 persen bahan baku obat masih didatangkan dari luar negeri. Itu menyebabkan ketergantungan pada impor.

Untuk itu, perlu didorong kemandirian bahan baku obat dengan meningkatkan riset dan pengembangan untuk mengolah keanekaragaman hayati menjadi bahan baku obat dan imunomodulator.

"Sudah saatnya Indonesia punya kemandirian bahan baku obat. Selama ini kita terkecoh seolah obat itu buatan Indonesia, obat produk akhirnya betul buatan Indonesia tapi bahan bakunya yang kimia itu 95 persen impor dan itu sangat bisa disubstitusi dengan obat modern asli Indonesia yang dengan bahan baku herbal yang berasal dari keanekaragaman hayati kita," ujar Menristek Bambang.

Menristek Bambang menuturkan memang tahapan-tahapan yang dilakukan untuk sampai kepada produk obat yang berkualitas dan memiliki izin edar tidak mudah, tapi harus dilakukan termasuk kegiatan tinjauan sistematis, studi bioinformatika dan uji klinis.

"Dengan uji klinis ini maka kita akan bisa melahirkan ekstrak tersandar yang nantinya bisa dikembangkan apakah menjadi minuman sehat seperti jamu, menjadi obat herbal terstandar dan tentunya yang utama adalah untuk fitofarmaka, dan ini kembali lagi tidak hanya untuk COVID-19 tapi lebih untuk penanganan penyakit lainnya," ujarnya.
 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar