Deteksi dini demensia Alzheimer bantu mempertahankan daya ingat pasien

id demensia alzheimer,deteksi demensia

Deteksi dini demensia Alzheimer bantu mempertahankan daya ingat pasien

Ilustrasi (Pixabay)

Semakin cepat menemukan orang dengan gejala demensia ini, kita berharap akan banyak orang yang kita pertahankan daya ingatnya dan meningkatkan kualitas hidup orang dengan demensia.
Jakarta (ANTARA) - Deteksi dini orang dengan demensia Alzheimer bisa membantu memperlambat perkembangan penyakit yang pada akhirnya bisa mempertahankan daya ingat pada pasien tersebut, kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Mental, Kesehatan Jiwa, dan Napza (P2MKJN) Kementerian Kesehatan, Dr. Celestinus Eigya Munthe, Sp.KJ, M.Kes.

Di sisi lain, perlambatan perkembangan atau progresivitas penyakit juga dapat membantu mempertahankan kualitas hidup orang dengan demensia.

"Semakin cepat menemukan orang dengan gejala demensia ini, kita berharap akan banyak orang yang kita pertahankan daya ingatnya dan meningkatkan kualitas hidup orang dengan demensia," ujar dia dalam webinar bertajuk "Kenali Demensia Alzheimer, Pentingnya Deteksi Dini" sebagai acara puncak dari peringatan bulan Alzheimer sedunia, Jumat.

Baca juga: BKSD Yogyakarta menggandeng Suku Badui tangkap kera di Gunung Kidul

Demensia Alzheimer atau lebih dikenal dengan Alzheimer, seperti dikutip dari laman Alzheimer Indonesia (ALZI) merupakan salah satu bagian dari demensia yang paling banyak ditemui. Orang dengan masalah ini mengalami penurunan fungsi otak termasuk fungsi kognitif yang meliputi kemampuan daya ingat, berbahasa, fungsi visuospatial dan fungsi eksekutif menurun.

Setidaknya terdapat 10 tanda demensia Alzheimer yang bisa menjadi acuan seseorang melakukan deteksi dini pada dokter spesialis saraf yakni: gangguan daya ingat, sulit fokus, sulit melakukan kegiatan sehari-hari, disorientasi, kesulitan memahami visuospasial.

Baca juga: Pemkot Yogyakarta memperkuat layanan daring antisipasi pungli

Tanda lainnya yakni gangguan komunikasi, menaruh barang tidak pada tempatnya, salah membuat keputusan, menarik diri dari pergaulan serta perubahan perilaku dan kepribadian.

"Kita menganggap orang yang pelupa sebagai hal yang biasa dan dijadikan bahan guyonan, padahal lupa salah satu gejala demensia Alzheimer. Selain itu, perlu diperhatikan juga mau melakukan sesuatu sulit berkonsentrasi kita sering dijadikan bahan gurauan padahal ini tanda-tanda dini demensia Alzheimer," kata Munthe.

Kementerian Kesehatan memberi perhatian pada masalah demensia Alzheimer salah satunya dengan meluncurkan aplikasi Sehat Jiwa yang antara lain memuat pemeriksaan untuk demensia. Munthe juga mengatakan bahwa pemeriksaan ini bertujuan untuk dapat mengetahui kondisi kesehatan jiwa seseorang termasuk masalah daya ingat yang berhubungan dengan perubahan perilaku yakni sebuah hal yang biasa ditemukan pada pasien demensia Alzheimer.
 
Tangkapan layar William Buntoro (72) yang terdiagnosis demensia Alzheimer mild stage pada tahun 2018. (ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)


Pengalaman orang dengan demensia

Pentingnya deteksi dini demensia Alzheimer dirasakan salah satunya oleh William Buntoro (72). Pria yang kini masih bekerja di bidang koperasi perusahaan itu terdiagnosis demensia Alzheimer tahap sedang atau mild stage pada tahun 2018.

Gejala awal yang dia rasakan yakni lupa, mulai dari tak ingat lokasi menyimpan barang-barangnya, hari hingga tak ingat arah jalan pulang ke rumah.

“Suatu saat di rumah anak di Riau, iseng setelah magrib jalan. Rumah itu berdekatan dengan pertokoan. Asiknya berjalan saya lupa pulang ke arah mana padahal jalan itu lurus. Untung saya bawa handphone, minta dijemput,” kata dia.

Setelah mengalami masalah ini, dia lalu berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf dan menjalani pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI). Hasilnya pemeriksaan, dokter mencurigai ada pengecilan di otak William.

Berbekal hasil pemeriksaan MRI, William kemudian diminta berkonsultasi dengan dokter spesialis fungsi luhur di salah satu rumah sakit kawasan Jakarta. Di sana dia menjalani semacam psikotes selama kurang lebih 3 jam, sebelum akhirnya Kembali berkonsultasi ke dokter saraf yang menanganinya. Hasilnya, dokter mengatakan adanya pengecilan di otak William.

Ketika William menanyakan penyebab, dia mendapati kemungkinan akibat stres pekerjaan yang selama ini dialami.

William kini masih rutin melakukan konsultasi dengan dokter sembari meminum obat yang diresepkan padanya.

Menurut Direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia (ALZI), Michael Dirk R. Maitimoe, saat seseorang dengan gejala-gejala termasuk lupa yang sudah mengganggu kegiatan sehari-hari atau memerlukan bantuan orang lain, maka ini pertanda dia perlu segera melakukan deteksi dini.

Dari sisi usia, Michael mencatat, demensia yang awalnya banyak dialami orang berusia 65 tahun ke atas, saat ini ditemukan pada usia lebih muda yakni 50 tahun-an. Menurut dia, temuan ini bisa menjadi perhatian orang-orang bahwa demensia bisa dialami bukan hanya kalangan lanjut usia.

Di sisi lain, COVID-19 yang menjadi pandemi sejak setahun terakhir meningkatkan kemungkinan seseorang terkena demensia dan menyebabkan gejala demensia muncul lebih awal.

Pakar neurologi sekaligus direktur Banner Sun Health Research Institute di Amerika Serikat, Dr. Alireza Atri seperti dilansir dari CNBC menjelaskan, COVID-19 dapat merusak pembuluh mikro di otak, merusak kekebalan tubuh, dan menyebabkan peradangan. Kondisi ini dapat memberikan akses lebih mudah pada hal-hal yang dapat membahayakan otak dan menyebabkan gejala gangguan neurologis seperti demensia, muncul lebih awal.

Sementara itu, menurut Kepala Eksekutif Alzheimer's Disease International (ADI), Paola Barbarino, pemahaman yang lebih jauh mengenai hubungan antara COVID-19 dan demensia dapat membantu pihak berwenang untuk mengelola peningkatan prevalensi demensia, dan mengidentifikasi gejala sedini mungkin.

Dia mengatakan, mengetahui gejala demensia memungkinkan orang untuk mencari lebih banyak informasi, saran dan dukungan, yang berpotensi mengarah pada diagnosis.

 
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021