Logo Header Antaranews Jogja

Atasi polusi udara DKI Jakarta dengan konsep "pull & push"

Kamis, 24 Agustus 2023 05:55 WIB
Image Print
Kendaraan terjebak macet di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (21/8/2023). Kemacetan masih terjadi di beberapa ruas jalan Ibu Kota meskipun Pemprov DKI Jakarta telah menerapkan kebijakan sistem bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi 50 persen aparatur sipil negara di lingkungan Pemprov DKI dalam upaya menekan tingginya polusi udara di Jakarta. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat transportasi dan Wakil Ketua Bidang Penguatan dan Pengembangan Kewilayahan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menawarkan solusi "pull and push" untuk mengatasi polusi udara di Jakarta.

Pakar transportasi dari Unika Soegijapranata tersebut mengatakan bahwa selama ini, solusi yang diberlakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, seperti work from home (WFH), "4 in 1" serta uji emisi kendaraan kebanyakan hanya menyentuh aspek "push", tetapi tidak menyentuh aspek "pull".

"Pemerintah sejauh ini sudah memberlakukan WFH, 4 in 1, atau juga uji emisi kendaraan. Nah itu semua hanya menyentuh aspek "push" atau hulu persoalan polusi," kata Djoko saat dihubungi di Jakarta pada Rabu.

Ia menyebut, solusi yang perlu diterapkan bukan hanya pada hulu, tetapi juga pada hilir persoalan, yakni dengan melengkapi angkutan umum pada kota selain Jakarta, dalam hal ini kota-kota penyangga.

Djoko menyebut, pencemaran udara di Jakarta meningkat kemarau pada Juni-Agustus 2023.

"Sumber polutan terbesar dari sektor transportasi (44 persen) dan sektor industri (31 persen)," kata Djoko.

Ia melanjutkan, data yang dihimpun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2022, ada sekitar 25,5 juta kendaraan bermotor yang terdaftar beroperasi di DKI Jakarta.

"Sebanyak 78 persen di antaranya merupakan sepeda motor. Sepeda motor menghasilkan beban pencemaran per penumpang paling tinggi dibandingkan mobil pribadi bensin dan solar, mobil penumpang, serta bus," kata Djoko.

Efisiensi kendaraan, kata Djoko, sangatlah penting.

"Jadi, kalau naik bus, kontribusi pada CO2 akan lebih kecil dibandingkan sepeda motor dan mobil pribadi," kata dia.

Wilayah DKI Jakarta, kata Djoko, sudah 88 persen didukung oleh angkutan umum dari Transjakarta.

"Jadi rata-rata, kalau warga DKI keluar rumah, maka tidak sampai 500 meter, warga sudah bisa menemukan angkutan kota (angkot) atau kalau berjalan kaki sedikit lagi, sudah bisa dapat bus Transjakarta," kata Djoko.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pengamat MTI tawarkan konsep "pull & push" atasi polusi Jakarta



Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026