Sleman (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menegaskan pencegahan stunting menjadi fondasi strategis dalam mencetak generasi unggul Indonesia di masa depan, termasuk dalam menjawab tantangan krisis talenta digital menjelang 2045.
"Pencegahan stunting bukan semata isu gizi anak, melainkan strategis dalam mencetak generasi unggul Indonesia di masa depan," kata Kepala Perwakilan BKKBN DIY Mohamad Iqbal Apriansyah saat membuka kegiatan Orientasi Pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) di Kampus Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Selasa.
Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta, termasuk lurah dan kader Bina Keluarga Balita (BKB) dari lima kabupaten/kota di DIY.
Menurut dia, stunting yang merupakan kondisi terhambatnya pertumbuhan fisik dan kemampuan kognitif terjadi akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun.
"Periode 1.000 hari pertama kehidupan adalah masa emas pembentukan kualitas sumber daya manusia (SDM), termasuk kecerdasan otak dan potensi produktivitas di masa depan," katanya.
Ia mengatakan, anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan belajar yang rendah karena perkembangan otaknya terganggu.
"Ini berdampak langsung pada rendahnya kemampuan anak menguasai keterampilan digital saat dewasa nanti," katanya.
Iqbal menyambut baik kebijakan nasional "No New Stunting" yang kini menjadi arus utama program Kemendukbangga/BKKBN dengan fokusnya bukan hanya pada penurunan prevalensi stunting, melainkan juga pada pencegahan kasus baru.
"Pencegahan kasus baru jauh lebih strategis, maka tepatlah kebijakan Kemendukbangga bahwa pencegahan terjadinya kasus stunting baru (kebijakan no new stunting) menjadi prioritas," katanya.
Ia mengatakan, langkah ini diyakini sebagai prasyarat menuju Indonesia Emas 2045, terutama jika negara ingin menyiapkan tenaga kerja produktif yang cakap secara digital dan siap menghadapi revolusi industri 4.0.
"BKKBN DIY juga terus mengoptimalkan peran Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) sebagai wadah penguatan kapasitas orang tua dalam mendidik dan merawat anak sejak dini. Hingga Juni 2025, tercatat ada 1.518 kelompok BKB aktif di DIY, dengan 677 di antaranya sudah menjadi BKB Holistik Integratif,' katanya.
Ia berharap para kepala desa dan lurah turut ambil bagian dalam mendukung keberlangsungan program ini.
“Lurah dapat berperan lebih banyak untuk mendorong keaktifan kegiatan BKB di wilayahnya, salah satunya dengan mendukung penganggaran menggunakan dana desa,” imbaunya.
Dalam kesempatan yang sama, Lurah Condongcatur Reno Candra Sangaji turut berbagi praktik baik bagaimana desanya mengalokasikan dana desa untuk mendukung kegiatan BKB, termasuk pelatihan pengasuhan dan pemantauan tumbuh kembang balita.
Sedangkan Dekan Fakultas Psikologi UMBY Reny Yuniasanti M.Psi. Ph.D. yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa krisis stunting hari ini akan menjadi krisis digital di masa depan bila tidak diantisipasi.
"Digital talent merupakan kombinasi antara 'hard skill' dan 'soft skill'. Tanpa itu, kita tidak bisa mengejar kemajuan teknologi global," katanya.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan 18 juta talenta digital hanya dalam lima tahun ke depan.
"Jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas SDM sejak dini, Indonesia Emas tidak akan tercapai," katanya.
